Kamis, 26 Desember 2019

PALSU

Alangkah banyaknya orang-orang palsu yang akan kau temui. Aku pernah menemukannya, ada pula yang sedang berhadapan muka denganku.

Mereka itu bersikap sangat manis dan ramah. Terkadang penuh puja-puji. Sungguh baik bersikap manis dan ramah tapi sebaiknya lakukan dengan tulus. Bukan yang setelahnya engkau mencaci maki atau ternyata hati mu tak sama dengan sikap. Engkau palsu jika begitu.

Jangan berharap terlalu tinggi untuk menemukan orang yang tulus padamu. Nanti kau hanya akan menemukan kekecewaan. Jangan pula engkau terikut menjadi orang yang palsu. Karena menjadi palsu itu melelahkan bagimu dan menyakitkan bagi orang lain 

Rabu, 20 November 2019

PADA MUSIM YANG BERBEDA

Ya, aku melarikan diri dari harapan tentang turunnya hujan seperti waktu itu. Musim berubah. Tak ada gunanya terus merengek pada awan yang hanya datang sebentar lalu pergi lagi bersama angin.

Ya, aku memalingkan wajah dari kelamnya mendung yang serupa rindu semu dan harapan palsu belaka. Agar usai sudah bertumbuh pohon kecewa. Menekuk muka atau berlinang air mata.

Meski terik matahari dan kerontangnya  bumi semakin menjadi, akan kuusahakan menerima dengan lapang dada. Ada syukur bahagia jika sesekali hujan datang, tanpa berani berharap lebih banyak lagi. Nanti, jika musim penghujan telah tiba, akan kusyukuri bahwa aku telah pernah menerima sinar matahari sangat banyak....

Kamis, 10 Oktober 2019

HUJAN PADA 101019

Awan gelap yang menggantung di langit yang mulai redup akhirnya jatuh berderai tumpah ruah ke bumi. Angin kencang yang berhembus sedari tadi rupanya tak mampu membuyarkan rindu langit kepada bumi yang kian berat setelah tertahan terik mentari sekian lama. Kerontang bumi dengan tanah pecahnya telah menyayat hati langit. Teriakan dedaunan yang mengering telah menggugah tebalnya awan untuk segera mencair.

Aku duduk menikmati hujan yang mengguyur tanaman-tanamanku. Bisa kurasakan mereka tersenyum sumringah, tertawa dan memekik riang. Tanah-tanah basah, rumput hijau berkilauan, batu-batu yang terhampar di teras segar merona. Gemericik air dari cucuran atap terdengar seperti musik yang mengiringi tarian ranting-ranting Alpukat. Hempasan air dari pancuran menggapai membasahi kakiku. Aku diam saja membiarkan ujung celanaku basah. Sudah lama sekali sejak musim hujan tahun lalu berakhir.

Apakah di tempatmu juga sudah turun hujan? Aku ingin membagikan momen ini denganmu, meski kita berada di bawah langit yang sama tapi belum tentu hujan yang sama telah tiba kepadamu.

Aku masih duduk diam meski hujan mulai reda. Angin bertiup dingin menyelusup ke pori-pori. Kubebaskan khayalanku tentangmu, khayalan tentang engkau yang tiba-tiba datang menyampirkan selimut di bahuku. Melingkarkan lengan memelukku. Dan kita sama-sama berdiam menikmati sisa-sisa hujan. Mungkin pikiranmu akan dipenuhi kenangan masa kecilmu tentang hujan sementara aku menikmati hangatnya kebersamaan kita tanpa memikirkan apa-apa.

Segaris rasa sakit dibelakang kepala merobek lamunanku. Membawaku pada kenyataan. Disana kau masih diam meski aku terus berkata-kata...