Rabu, 14 Juni 2017

SALAH KADO

#30HariMenulis - Day 14

"Dua hari lagi ulang tahun mama, ayo lah kak, bantu aku beli kado" rengek Yaya pada kakaknya.

"Mau beli kado apa dek?" tanya Lala.

"Aku mau beli dompet hp. Punya mama sudah mengelupas kulitnya" jawab Yaya.

"Baiklah, nanti kakak kasih uangnya. Kamu beli lah dan bungkus yang rapi"

Yaya melonjak gembira. Walau tidak ada perayaan dia selalu senang memberikan kado setiap kali Mama ulang tahun. Kado nya tidak harus mahal kadang hanya sebatang coklat pun jadilah.

Malam itu Lea sibuk mengutak-atik hp nya. Sepertinya ada yang salah. Hp yang biasa dipakainya tiba-tiba tidak bisa hidup. Sudah dicoba restart masih saja tidak berfungsi seperti biasanya. Karena tidak juga berhasil memperbaikinya Lea memutuskan untuk membawanya ke konter besok untuk diperiksa.

Pagi-pagi sekali Yaya sudah minta diantar ke sekolah. Dan berpesan untuk tidak dijemput. Masih setengah mengantuk Lea bangkit dari tempat tidur. Cuci muka dan mengantar anaknya sekolah. Tak lupa dibawanya hp untuk diperbaiki.

"Wah, bu..ini yang kena mmc nya." ujar petugas konter setelah memeriksa hp Lea.

"Berapa tuh biaya dandannya" tanya Lea cemas. Dia tidak siap kalau harus tanpa hp hari ini. 

"Kira-kira Rp.400.000" jawab petugas.

"Wah..kalau segitu rasanya saya tunda dulu deh" Lea membawa pulang hpnya dengan sedih. Dirumah dicopotnya batre hp dan menyimpannya hpnya baik-baik.

Pagi itu dihabiskannya dengan membersihkan rumah dan pekarangan. Menyiapkan makan siang untuk Yaya yang mungkin hari ini akan pulang cepat karena sudah selesai ulangan.

Lea pergi ke kebun belakang yang teduh. Membersihkan rumput dan daun-daun kering berserakan. Mengikatkan tali hammocknya di dua pohon yang berdekatan. Lalu berbaring disana dengan nyaman sambil menunggu Yaya pulang.

"Assalamualaikum..." teriak Yaya dari pintu gerbang.

"Waalaikumsalam.." jawab Lea. Dihampirinya anaknya. Seperti biasa ritual cium tangan, pipi kanan, pipi kiri lalu, cuppp..bibir mungil Yaya yang lucu di kecupnya.

"Gimana ulangannya, Ya?'
" Aman mah, bisa semua" jawab Yaya berbinar riang mata bulatnya.

Lea mengacak rambutnya pelan. 

"Baguslah..anak baiik" katanya sambil mencuil pipi Yaya. "Mama baring di kebun belakang ya sebentar, kalau kamu sudah lapar kita bisa makan sekarang"

"Nanti aja ya mah" jawab Yaya. Lalu pergi ke kamarnya.

Lea kembali berbaring di hammocknya. Angin sejuk yang bertiup membuatnya mengantuk. Tak terasa matanya terpejam.

Sayup-sayup di dengarnya lagu ulang tahun dinyanyikan. Dibukanya mata pelan. Dilihatnya Yaya meletakkan sesuatu di meja kayu tak jauh darinya dan bergegas pergi. Dilihatnya secangkir kopi mengepul. Dia tersenyum, dihampirinya meja. Dilihatnya ada sebuah bungkusan kado.

"Hehe..Yaya anak maniiis. Selalu begitu setiap tahun, Memberinya kado ulang tahun dan kejutan.

Dibukanya kertas yang membungkus kado. Dan tersenyum miris. Sebuah dompet hp yang khusus untuk type hp miliknya berwarna marun.

" Selamat ulang tahun mamaaah" teriak Yaya dari belakang. Dipeluknya Lea dengan hangat.

"Makasih ya Yaya sayang" ucap Lea. Dikecupnya kening Yaya.

"Pake ya mah" pinta Yaya. "Mana hp mama?"

"Nanti ya pakenya, sekarang hpnya lagi tidur panjang" jelas Lea. Wajah Yaya langsung berubah kecewa. Lea tertawa. Dipeluknya Yaya sekali lagi.

"Nanti dipake buat menyimpan hp yah" hibur Lea

"Yaahhh...salah kado aku" ujar Yaya seraya menepuk jidat.

           ***************




Selasa, 13 Juni 2017

ANAK-ANAK MUDIK

#30HariMenulis - Day 13

Hari ini aku bener-bener punya alasan untuk nggak menulis. Bukan malas sih, tapi waktu ku banyak terpakai untuk melepas rindu, mengobrol dan bercengkrama.

Anak-anak pulang dari rantau. Setelah sekian lama tak bersama karena mereka kuliah di luar kota. Jadi ceritanya mudik lah gitu. Mudik lebih awal untuk menyiasati kenaikan tarif angkutan dan ramainya arus mudik. Untungnya mereka juga sudah mulai libur setelah selesai UAS.

Menanti anak-anak pulang dari rantau itu seperti menanti ibu yang pulang dari belanja di pasar. Sensasinya gimanaa gitu. Mereka masih belasan kilometer dari rumah saja pintu gerbang sudah dibuka lebar-lebar. Selebar dua tangan terbentang saat mereka muncul di depan pintu.

Suasana jumpa di saat menjelang Lebaran memang luar biasa. Bayi-bayi mungilku dulu yang kini sudah menjelma jadi gadis-gadis cantik menempuh ribuan kilometer untuk sampai ke pelukan ibu. Warbiyasahhh.

Keadaan rumah langsung berubah begitu mereka tiba. Rasa kayak ada taman bunga dengan bunga-bunga bermekaran gitu. Makan sahur juga jadi lebih bersemangat. Apalagi pas bangun sahur sudah ada makanan di meja hasil kerja anak gadis. Uiiyy..enaknyee.

Pagi-pagi rumah sudah rapi, bersih dan terasa sentuhan remajanya. Enak ya. Mudah-mudahan nanti saat mereka harus kembali ke kampus aku jadi gak manja dan terbiasa kembali merawat rumah sendiri.

Saat berbuka puasa juga jadi meriah. Lagi-lagi disiapkan oleh anak-anak. Sambil makan sambil berkisah dan bercengkrama. Padahal kan makan gak baik ya sambil ngobrol. Hehe..

Sudah dulu ah, mau buat list kunjungan dulu untuk anak-anak. Kan banyak keluarga yang harus dikunjungi untuk menjaga tali silaturahmi. Maklum karena jauh mereka jarang pulang kampung. Jadi saat mudik harus dimanfaatkan dengan baik.

                    ***************

Senin, 12 Juni 2017

PENDEKAR MALU HATI

#30HariMenulis - Day 12

Aku dapat tugas bikin trek sepeda untuk acara gowes bersama klub-klub sepeda di kotaku. Sudah ada lima belas klub yang mendaftarkan anggotanya untuk ikutan acara ini. Perkiraan akan ada dua ratusan pesepeda yang hadir. 

Sebenarnya aku meracik trek ini tidak sendiri, tapi ada berapa teman yang kemarin sudah ikut survey dan menentukan lokasi. Berhubung mereka berhalangan ikut untuk memasang safety line sebagai penanda lintasan sepeda jadilah hari ini aku bekerja sendirian. Gak masalah, aku sudah biasa membuat trek di klub lari ku, walau sedikit berbeda dengan trek sepeda setidaknya ada mirip-mirip lah. Yang sama itu ya sama-sama di alam terbuka.

Supaya lebih cepat bergerak aku tidak pakai sepeda. Lagian trek ini berjarak total 30km, capek kan kalau pakai sepeda. Dengan ransel di pundak berisi airminum dan safety line aku berangkat menyusuri jalan-jalan yang kemarin sudah kami tentukan.

Rencananya titik kumpul akan ditetapkan di kantor Polres karena yang punya hajat Pak Kapolresnya. Setelah itu keluar menuju bypass dan berbelok ke arah Desa Kulur sekitar 2km. Kemudian berbelok masuk ke jalan setapak perkebunan sawit. Menuju area pertambangan timah. 

Beberapa penambang menatap curiga melihatku berkeliaran, dibeberapa titik memasang garis-garis polisi berwarna kuning hitam dan hitam putih yang membuat mereka rada ngeri juga. Khawatir karena penambangan yang mereka lakukan termasuk kategori ilegal, dan polisi jadi sosok yang meresahkan buat mereka.

Seorang penambang menghampiri ku dengan wajah tidak bersahabat. Apalagi sempat dilihatnya aku mengambil beberapa foto pemandangan kolong (kolam air bekas galian tambang) yang airnya berwarna kebiruan dan sangat cantik.

"Ada apa ini pakai-pakai ditandai garis polisi?" tanyanya.

Aku tersenyum tenang. Bapak itu mengamati ku dari ujung kepala sampai kaki. Memandang gagang golok yang menyembul di ransel di pundak ku dan menilik motor ku. Agaknya dia sedikit kaget menyadari ternyata aku wanitahh. 

"Permisi,Yak.. ku tengah masang tanda untuk trek sepeda" jelasku. Ayak adalah panggilan untuk abang dalam bahasa lokal.

"Oooh...trek sepeda... kire ku ade ape. Ade lomba sepeda rupe e" katanya lega.

"Ukan lomba, Yak..hanya gowes bersama kek kawan-kawan seluruh klub sepeda di Bangka ni," kataku meralat kata-katanya. Mungkin dikiranya akan ada perlombaan jika sudah pakai pasang garis polisi begini.

Setelah bercakap-cakap sejenak aku pamit melanjutkan pekerjaan.

Lepas dari area pertambangan aku memasuki perkebunan karet dan lada. Melalu jalan menanjak dan menurun hanya selebar tidak lebih dari satu setengah meter. Aku mesti konsentrasi mengendalikan motor kalau tidak ingin terjatuh. Belum lagi harus memastikan tanda di pasang cukup rapat agar bisa diikuti peserta gowes dan meminimalisir goweser yang nyasar. Dan setiap tikungan dan jalan bercabang wajib di beri penanda yang lebih panjang.

Sedang tegang-tegangnya berkonsentrasi mengendalikan motor dan sudah merasa cukup lelah tiba-tiba aku mendengar hiruk pikuk dari arah depanku. Agak jauh. Aku menerka-nerka apa gerangan kehebohan itu.

Memasuki area berpasir motor makin sulit dikendalikan. Pelan-pelan aku makin dekat ke arah sumber suara. Apa tuh, kok seperti ada jerit-jeritan ketakutan lalu kembali tidak jelas..begitu beberapa kali.

Wah, karena tempat itu sepi, agak masuk ke area hutan jauh dari perkebunan penduduk aku jadi was-was juga, jangan-jangan itu tindak kejahatan.  Lalu suara seperti orang yang dilemparkan ke air di iringi jeritan dan tawa yang ku bayangkan itu yang tertawa pasti sambil menyeringai.

Rada takut juga sebenarnya mau mendatangi sumber suara. Tapi jiwa pendekar dalam diri ku ini, ciee..cieee pendekar..hahak... rasanya tidak tega mengabaikan begitu saja tindak kejahatan terjadi tanpa berbuat sesuatu.

Ku parkirkan motor agak jauh dari lokasi yang terdengar ramai itu. Karena jalannya menanjak dan berpasir. Setengah berlari aku mendekat. Golok ku keluarkan dari ransel. Sempat ku siapkan nomor telpon Pak Kapolres yang aku yakin selalu standby, siapa tau aku butuh bantuan mendadak jadi beliau bisa perintahkan anak buahnya mengirim bantuan.

Begitu sekali lagi ada teriakan, aku langsung merangsek masuk ke arena, eh maksudnya menyibak semak belukar yang menutupi tekape. Benar saja, seorang pemuda kurus hitam dekil hanya mengenakan celana dalam sedang meronta dipegangi tiga orang lelaki yang tubuhnya lebih besar. 

"Hei!!!..." aku membentak mereka. Tapi pemuda kurus itu sudah terlanjur terlempar ke kolong. Dan lelaki yang melemparkannya terkejut menoleh ke arahku. Memandangi ku penuh tanda tanya.Tapi aku tak kurang terkejutnya memandang sekeliling.

Beberapa sepeda bergeletakan. Ada beberapa orang lagi disana. Ada yang sedang berbaring santai di rerumputan, ada yang sedang makan, mengobrol, mencuci sepeda. Semuanya hanya pakai sempak, celana dalam, bertelanjang dada. Malah ada satu orang sedang mandi membelakangi ku, tanpa sehelai benang pun. Dan mereka semua serentak menoleh kearahku heran dan kaget karena bentakan ku.

Aku langsung menyadari apa yang terjadi, tergagap dan minta maaf. Lalu buru-buru kabur dengan wajah merah padam karena jengah dan malu diiringi pandangan heran mereka.

*********************
 



    

Minggu, 11 Juni 2017

CINTA ITU CUMA GOMBAL DAN OMONG KOSONG BELAKA

#30HariMenulis - Day 11
(Task : Tulislah kisah FIKSI yang diakhiri dengan kalimat "mungkin ini bukan waktu yang tepat dan mungkin aku bukan orang yang tepat pula")

"Kii,..
Bisa tidak kita hanya jadi sahabat yang sangat dekat saja?" tanya Koko suatu hari melalui pesan Wa.

Kiki terkejut membacanya. Apa-apaan sih Koko, kok tiba-tiba aku pula kena dampaknya, pikir Kiki. Kemarin dia keluar dari grup wa komunitas kami dimana dia adalah ketuanya. Dia juga membatalkan beberapa agenda kegiatan karena kesal dengan anggota-anggota yang tidak solid lagi di grup. Sikapnya dinilai aneh oleh teman-teman yang lain karena selama ini Koko dikenal sebagai orang yang sabar, pengertian dan baik hati. Tapi teman-teman diam saja, apalagi  Om Yeiyeii bilang Koko sedang galau karena dipindah tugaskan ke kantor perwakilan di Singapura, sedangkan dia lebih suka disini agar tidak jauh dari anaknya.

"Ya ndak bisa lah, Ko. Yang namanya sahabat walaupun pakai embel-embel 'sangat dekat' tentu beda dengan hubungan kita sekarang" balasnya.

"Tapi kamu tau kan, Kii..sekarang ini aku sedang banyak masalah, di kantor, di rumah, di komunitas. Semua itu bener-bener bikin aku stres" kata Koko lagi. "apa lagi masalah anak ku, dia tak mau bicara sama aku, sekarang ini lebih intens aku ke kamu daripada ke anak ku. Apa kamu gak kasian sama anak ku? Lagi pula hubungan kita ini gak ada masa depannya. Aku gak bisa merusak rumah tangga ku meski hubungan dengan istri ku sudah hancur berkeping-keping belasan tahun lalu"

Kiki terdiam. Dia masih tidak bisa menerima alasan Koko mengakhiri hubungan yang baru mereka jalani sebulan.

"Koo..aku kan tidak berniat juga menghancurkan keluarga mu. Aku juga tidak pernah melarang mu berhubungan dengan anak mu. Aku tidak pernah menuntut perhatian lebih dari apa yang biasa kita jalani, Koo"

Kiki mulai menangis terisak. Masih diingatnya beberapa bulan lalu ketika Koko mulai rajin mengirim pesan wa padanya. Lalu mereka menemukan kecocokan dan sepakat menjalani malam-malam insomnia mereka bersama.

Kiki dan Koko adalah jiwa-jiwa malam yang berkelana dalam sepi dan dingin mencari kantuk yang sangat langka datang di awal malam. Di saat orang lain sudah nyenyak bergelung dalam selimut mengarungi mimpi, mereka masih menggembala mata yang nyalang enggan terpicing.

Dan ketika mereka saling menemukan tiba-tiba malam-malam yang menyiksa jadi terasa indah. Diisi dengan canda tawa dan cinta.

Pernah suatu kali Kiki merasa hubungannya dengan Koko salah, lalu Kiki berniat  membatalkan komitmen mereka sebagai kekasih. Tapi Koko memohon agar Kiki bertahan.

"Kii...baru saja aku keluar dari gudang gelap yang kosong itu, kenapa mau Kiki masukkan lagi?" katanya saat itu

"tiga jam saja Kiki menghilang, aku sudah kelimpungan...galau. Masa tega Kiki mau tinggalkan Koko"

Lalu terenyuhlah hati Kiki dan kembali menautkan hati pada Koko. Dan sekarang? ketika Kiki sudah yakin dan terikat pada cinta Koko tiba-tiba mau bubaran begitu saja?

"Kii..memangnya Kiki mau hubungan kita ini akan bagaimana?" tanya Koko.

"Ya begini saja Ko. Seperti yang kita jalani sekarang. Aku gak akan meminta apa pun dari mu, tidak pula sebuah pernikahan. Tidak apa pun kecuali cinta yang dulu Koko tawarkan"

"Tapi bagi ku cinta itu cuma gombal belaka, Kii. Omong kosong saja"

Kiki tersentak. Apppaa?!! Jadi semua yang Koko bilang kemarin hanya gombal saja? Jadi yang katanya kangen dan cinta itu cuma omong kosong? Kiki terhenyak. Dan percakapan terputus. Kiki memilih untuk menunggu Koko tenang dulu. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk bicara.

Lebih dari seminggu berlalu tanpa mereka bertegur sapa. Tak ada malam-malam penuh tawa canda. Tidak pula 'morning call' yang manis yang dulu selalu diminta Koko agar dia tidak terjebak macet saat ke kantor. Karena tidak ada Koko di grup komunitas akhirnya Kiki juga memutuskan keluar, dia bilang Koko yang membawanya ke grup, jika Koko keluar maka untuk apa dia tetap tinggal.

Minggu ketiga setelah kejadian itu dia mendapat kabar dari temannya di grup kalau Koko sudah kembali. Dan menjadi Koko yang dulu lagi, ceria dan selalu menghidupkan suasana di grup.

Kiki senang. Koko sudah kembali. Mungkin ini saatnya dia memulai kembali kisah mereka. Tapi ternyata Koko tidak kembali untuk Kiki. Dia masih dingin dan tawar. Pesan-pesan wa yang dikirim Kiki tak pernah dibaca apalagi dibalas.

Akhirnya Kiki meyakini kalau semuanya memang benar-benar harus diakhiri.

"Jika hubungan ini memberatkan bagi mu, tidak lagi membuat mu bahagia seperti yang Koko pernah bilang, baiklah, Ko. Kita akhiri saja. Aku akan keluar dari lingkaran rasa indah itu, kembali, sendirian ke gudang kosong gelap yang Koko buat. Menutupnya rapat-rapat hingga nanti sampai saat aku bisa melihat Koko tanpa merasa terluka, menikmati canda Koko di grup tanpa merasa tersakiti. Maafkan aku, semoga segala kebaikan terlimpah pada mu, semoga Koko selalu sehat dan bahagia" tulis Kiki. Dan pesan itu baru dibaca Koko tiga hari kemudian.

Kiki menghela nafas panjang  pasrah. Dengan sedih menghapus semua riwayat percakapan dengan Koko setelah selesai membacanya dari awal mereka mulai akrab. Disaat dia merasa Koko butuh seseorang yang bisa mengeluarkannya dari gudang itu. Mungkin ini bukan waktu yang tepat dan mungkin aku bukan orang yang tepat pula.

                         **********************

Sabtu, 10 Juni 2017

ANDAI LEBAY

#30HariMenulis - Day 10

(Tema : Andaikan kamu ALADDIN yang menemukan lampu ajaib dan bertemu dengan Jin baik yang akan memberimu 3 PERMINTAAN, permintaan apa yang kamu inginkan?)


Duh, bakal menggali keserakahan dalam diriku nih. Hihii..gak apalah, mumpung ada yang nawarin. Aiih, enak amat yah andaikan bukan berandai-andai.

Yang pertama aku pengen minta doraemon sama kantong ajaibnya. Kok gak kantong doraemon aja? Enggak ah, pengen sepaket ama doraemon. Biar ada yang menemani main, mengiburku saat aku sedih, mendengarkan ku saat aku pengen ngomel, kasih aku solusi saat aku kena masalah.

Mau butuh apa-apa tinggal cari di kantong doraemon. Apalagi aku suka banget tuh sama baling-baling bambunya. Bisa kemana-mana gak capek, gak berat di ongkos, bisa sambil liat pemandangan alam dari atas lagi. Aku pengen banget main paralayang tapi belum pernah kesampain. Dengan baling-baling bambu rasanya mungkin rada-rada mirip yah.

Yang kedua aku pengen minta jadi diriku sendiri, bukan jadi Aladin. Kan gak enak masa aku cuma pake rompi ama celana gombrang berserut itu melulu. Aku kan pengen juga pake jersey, pake baju senam, celana kargo, dan aku gak suka naek permadani, pengennya pake sepeda mtb kayak patrol idamanku ato minimal kayak Yayank Omay ku deh.

Yang ketiga aku pengen minta andai-andai ini jadi nyata. Udah itu aja lah. Percuma juga minta ini minta itu kalo cuma andai. Nyebelin tau.

Padahal berandai-andai itu enak-enak gimanaaa gitu. Tapi udahnya pahit-pahit gimanaaa gitu. Mendingan juga ngopi, sederhana tapi nyata.

Yuk ngopi yuuk...biar rasa ada kamu gitu, biar inget D
Ahhayyyy..


                 **********************




Jumat, 09 Juni 2017

TULIS AJA JANGAN KEBANYAKAN BENGONG

#30HariMenulis - Day 9

Sudah sore dan aku belum menulis untuk hari ini. Bukan belum sih sebenarnya. Belum selesai. Keburu ilang mood karena sesuatu dan lain hal.

Pengennya sih nerusin kisah Mayla kemaren, kali ini kembali ke sudut pandang tokoh utama, Ardy (Turning Point). Kemaren kurasa bagian ini akan lebih mudah, seluruh ceritanya udah ada di kepala. Tapi ya gitu deh, nyusunnya dan numpahinnya ke dalam tulisan itu gak mudah buat ku. Hahahhh..dasar amatir.

Abis baca tulisannya si 'Rangga' bukannya tambah termotivasi nulis malah bikin drop. Kok tulisannya bagus gitu, enak gitu bacanya. Sedangkan tulisan ku..hadeh, payah. Nah, ini nih penyakit penulis amatiran. Suka takut tulisannya jelek. Padahal aku tau banget, klo mau nulis tuh tulis aja, jangan kebanyakan mikir negatif. Justru kalo baca tulisan orang laen bagus ya mesti lebih belajar dari sana, lebih termotivasi lagi buat ngbagusin tulisan. Tapiiii...ya gitu, aku mah omong doank, prakteknya susssyaaah.

Tapi bukan itu lho yang bikin aku ilang mood buat lanjutin kisah Ardy. Asli hanya karena tiba-tiba ilang mood. Bukannya dicari moodnya malah aku tidur siang dan bermimpi buruk. Nah lo rasain dah. Bangun tidur kirain jadi fresh malah tambah malas nulis.

Rasanya pengen matiin hp beberapa hari. Padahal aku nulis cuma ngandelin hp. Biarlah rasanya aku gak akan nulis buat hari ini dan beberapa hari ke depan. Pelan, kutekan tombol off. Triiiinggg..nada off smartphone ku bunyi. Proses sebentar, lalu layar gelap. Sudah. Hp off total.

Duduk santai di dapur. Bengong. Beresin dapur bentar. Duduk lagi, bengong lagi. Terus mikir, ini dia salah satu tantangan #30hariMenulis itu. Ngalahin rasa malas, berjuang untuk konsisten menulis 30 hari berturut-turut. 

Kali ini enak, tema gak ditentukan sama admin. Jadi lebih bebas mau nulis tentang apa aja. Banyak pesertanya yang sibuk dengan pekerjaan tapi masih berusaha menyelesaikan tugas nulis. Masa aku yang punya lebih banyak waktu luang gak mau berusaha. 

Akhirnya kuhidupkan lagi hp dan mulai menulis. Masih bingung mau nulis apa. Masih gak mood nerusin kisah Ardy. Tapi harus nulis. Jadi mau nulis apa??? Bengong lagi jadinya. Ah, Amoy, kebanyakan bengong lo!

Udahlah ngopi aja, kebetulan lagi gak puasa..hihi. 

                     ************************

Kamis, 08 Juni 2017

MAYLA, A SAD LONELY LIL GIRL INSIDE



#30HariMenulis - Day 8

Aku lagi melow, aku lagi sedih, kecewa, terluka, gak berdaya. Rasanya pengen nangis meraung-raung kayak srigala ketusuk duri sawit yang berbisa. Tapi gak bisa, aku kan manusia bukan srigala. Lagian aku terlalu manis untuk berlaku seperti itu.

Hati ku sakit, jiwa ku terluka, rasanya nyesek di dada, cenat-cenut di hati. Pengen curhat, pengen nangis di pangkuan seseorang. Tapi gak bisa. Kalau ketemu orang aku suka gak tahan pasti senyum atau diam tanpa ekspresi.

Rasanya pengen ngebut bawa motor. Gas abis sampe kecepatan paling tinggi di aspal item yang mulus, trus belokin sedikit stangnya mendadak, kejungkal dan braaaaaakkkkk!! Ngglosor diaspal, bedarah-darah, mati! Aduh, astaghfirullahaladziem...jangan donk!! Ntar gak ikutan lebaran. Lagian aku gak bisa bawa motor.

Jadi gimana donk?? Akhirnya aku cuma bisa duduk bengong di pojokan ranjang. Memeluk lutut, menatap kosong. Sendirian. Lemas. Perut kosong, bibir sama tenggorokan kering, soalnya lagi puasa.

Tuitt-tuiiiit...tuitt-tuiiiit.... Bunyi nada pesan, itu khusus nada dering yang ku setting buat Ardy. Aku sempat ngirain itu bunyi perut ku yang melilit keroncongan. Aku diem aja. Masih dengan pikiran dan tatapan kosong. Perut ku juga dink, kosong.

 *
***

Beberapa hari yang lalu secara gak sengaja aku ketemu dia. Aku sama perawat lagi di pasar cari mangga. Ada yang lagi motoin aku dari samping. Ih ya tu orang gak sopan, moto gak pake ijin. Dia kira bagus kali ya objek foto perempuan diatas kursi roda berkeliaran di pasar.

Pas aku noleh, dia nurunin kamera yang nutupin wajahnya. Mukanya terpana. Aku juga kaget banget. Lelaki tinggi yang kokoh itu, menghampiri ku dengan wajah bengongnya.

Makin dekat aku makin yakin itu siapa. Wajahnya keliatan jelas kaget campur gembira.

"Mayla?...Maylaaa?? Ini kamu Mae?" katanya setengah gak percaya.

Dia bersimpuh di kursi roda ku, memegang tangan ku, natap mata ku penuh rasa kangen. Aku diam aja. Wajah ku datar aja, tatapan ku juga kosong rasanya.

Tiba-tiba pasar yang rame itu terasa sepi dan mati. Rasanya cuma ada kami berdua. Perasaan ku campur aduk. Yang pasti dominan, aku ngrasa seneng, bahagia, ketemu sahabat kanak-kanak ku yang dulu tumbuh bersama. Yang dulu selalu jagain, ngelindungin, nyayangin dan menghibur ku.

Tapi aku udah terbiasa gak bisa ngungkapin perasaan. Aku selalu punya kesulitan nunjukin perasaan ku.

Aku masih diam aja saat Ardy ngambil alih kursi roda ku dari perawat. Mendorong pelan-pelan nganterin ku pulang kerumah.

Sampe rumah Ardy menggendong ku ke sofa jati ruang tamu. Aku nurut aja dengan lemah nyandarin kepala di dadanya. Duh, nyamannya. Ini Ardy-ku dulu, temen masa kanak-kanak dan kekasih saat remaja. Perawat ngambil alih kursi roda ku dan masuk ke dalam ninggalin kami berdua.

Di sofa itu Ardy gak langsung meletakkan ku tapi dia duduk sambil mangku memeluk tubuh ku yang terasa mungil dalam dekapannya. Diciuminya rambut ku sambil nangis terisak-isak. Aku masih diam aja. Tapi ada airmata ngalir di pipi ku. 

"Apa yang sudah terjadi sama kamu, Mae?..Ada apa? Kemana aja kamu selama ini ngilang tanpa berita?" tanyanya lembuuut banget sambil nangis. Pertanyaan yang gak menuntut jawaban. Persis seperti dulu saat aku hilang di perkebunan dan ditemukan dalam keadaan shock tanpa ekspresi.

Aku diam aja, sembunyiin wajah di dadanya. Dia dekap kepala ku. Dieratinnya pelukannya. Dia nangis, aku nangis, kami nangis bareng sampe capek.

Akhirnya diletakkannya aku berbaring di sofa. Dia bersimpuh di samping ku. Merapihkan rambut ku dan mengusapnya penuh kasih sayang. Aku nangis lagi terharu. Digenggamnya tangan ku, seolah mau ngeyakinkan semuanya akan baik-baik aja. Lagi-lagi persis sama seperti waktu itu. Dejavu.

Ardy bangkit ke belakang. Ngambil air hangat dan nyodorin ke aku sambil bantu aku bangkit untuk minum.

Lalu pergi ke belakang, sepertinya ngobrol sama perawat. Lama. Pas dia kembali langsung pamitan untuk pulang ke pondoknya di perkebunan.

Sejak hari itu kami jadi sering kontak. Kata Ardy, dia baru beberapa bulan kembali dari rantau. Menjauh dari kehidupan dunia modern, mengasingkan diri di perkebunan. Bahkan katanya dia baru beli hp setelah ketemu sama aku lagi. Soalnya jarak dari kampung ke perkebunan agak jauh dan dia jarang turun ke kampung. Dia melanggar konsep hidup barunya demi aku, pake hp.  Pelanggaran kedua setelah dia mulai lagi pakai kamera.

Banyak yang dia ceritain ke aku. Tentang konsep permakultur yang sedang dia terapkan di perkebunan. Tentang kegiatan edukasi penduduk dan kebiasaan larinya. Tentang khayalan-khayalannya ke depan. Dan tentang harapannya akan hubungan kami.

Aku juga sempat cerita tentang hidup ku. Keluarga ku yang berantakan gara-gara suami selingkuh dan memilih menikahi sekretarisnya. Tentang kenapa dulu aku pergi ninggalin dia tanpa pamit. Dan tentang kenapa akhirnya aku harus pake kursi roda.

Ketika sampai ke pertanyaan, apa aku pernah selama ini ngehayalin dia seperti dia ngehidupin aku dalam khayalannya, kujawab jujur, enggak. Karena merasa bersalah dan gak pantas buat dia, aku memilih menyimpannya rapih di ruang terindah hati ku dan setengah mati berusaha ku lupain, meski gagal. Bagiku, dia dan kenangan indah tentangnya terlalu sakral untuk ku utak-atik dalam sebuah khayalan. Dia kecewa, terluka dan gak terima atas jawaban ku. Baginya sungguh gak adil sementara dia selalu memikirkan ku tapi aku malah nglupain dia. Sementara dia menanam dan memupuk rasanya pada ku, membiarkannya terus tumbuh dan berbunga, aku malah mengubur dan membekukannya. Dia menyalahkan ku berulang-ulang.

Aku ketakutan liat reaksinya. Dia bilang kalau dia sayang banget sama aku, tapi juga jadi benci banget. Katanya aku adalah soulmate-nya tapi juga nightmare-nya.  Aku takut dia pergi ninggalin aku, mengabaikan ku. Ketakutan yang sama seperti saat aku sendirian nyasar di perkebunan, kedinginan dalam gelap dan dalam serangan rasa nggak diinginkan oleh siapa-siapa.

Aku kecewa, terluka sama kemarahan Ardy. Aku tahan. Aku terima. Sebagai wanita dewasa aku bisa maklum dan bersabar. Tapi Ardy lupa, there's a sad lonely litle girl inside me. Yang berusaha keluar dari diriku. Aku dikuasai trauma masa kecilku.

Seharusnya Ardy yang paling kenal aku saat kecil tau kalau aku punya trauma. Seharusnya dia yang paling bisa pahami aku.  Berhenti menyalahkan ku karena itu bikin aku ngrasa gak diinginkan. Itulah sebabnya aku bener-bener nangis habis-habisan di kamar sampe mata ku bengkak. Aku sampai takut kalau kebanyakan nangis ntar mataku jadi buta dan gak bisa mandangin foto Ardy lagi yang kujadiin wallpaper di hp ku.

Beberapa kali pesan dari Ardy masuk tetep aku gak bereaksi. Diam mandangin hp di tangan. Gak lama dia telpon. Bunyinya makin lama makin memekakkan telinga. Hp ku jatuh di pangkuan. Ku jatohin badan ku ke kasur. Meringkuk meluk lutut. Airmata mulai banjir ngebasahin kasur.

Aku mulai berpikir. Mengkaji ulang hubungan kami. Apa sebaiknya ku hentikan aja. Aku betul-betul gak sempurna buat dia. Dia hanya akan banyak terluka. Mungkin lebih baik aku menyingkir aja dari jalan hidupnya. Kembali mengurung diri dan menutup rapat hati ku. Lama aku mikir, dan nangisin apa yang sedang kupikirkan.

Pelan-pelan ku raih hp dan mulai mengetik.

"Kita gak lagi akan sering2 bicara. 

Aku gak akan menyela dalam kehidupan mu. 

Aku berharap kamu tetep semangat dan berbahagia seperti biasanya. 

Maaf atas semua kesalahan dan kekurangan ku. Maaf atas smua luka mu yang aku sebabkan.

Terimakasih atas seluruh cinta mu yang tercurah buat ku

Aku pamit untuk kembali ke gudang kosong yang gelap itu dan berharap utk gak pernah jatuh cinta lagi. Krn aku pengen kamu jd yg terakhir.

Kita akan saling mencintai dengan cara kita masing2. Dalam khayalan kita sendiri-sendiri."

Airmata ku jatoh berderai-derai saat ngbaca pesan yang ku buat. Berkali-kali kubaca dengan mata kabur karena kebasahan airmata. Lalu ku bulatkan hati ngirim pesan itu ke Ardy. Klik! Pesan terkirim.

Aku duduk di pojokan tempat tidur meringkuk memeluk lutut. Natap jauh entah kemana, tanpa ekspresi.

                                              **************************