Minggu, 21 Januari 2018

RESAH


Mungkin malam sudah mulai bosan

Ketika kutulisi kelamnya dengan sedu sedan

Bahkan gemintang mulai kesal

Karena kugeser tempatnya dengan coretan


Dan telaga sunyi mengelak

Saat terlalu banyak airmata buncah

Kutuangkan didalamnya dengan bergolak

Pada rindu yang tak pernah sudah


Bisa kukumpulkan beribu teman

Hanya dengan sepercik senyuman

Lalu kepada siapa akan bertuan

Hati sunyi yang selalu berderai airmata


Berkawan secangkir kopi hitam

Kuluruhkan kesah di hati yang basah

Sementara embun malam tergelak

Pada kelu yang belenggu lidah


Dalam mimpimu aku ingin menari

Sembari menangis merobek jiwa

Kuleburkan seluruh isi hati

Berpeluk dalam janji yang tak pasti


              ******************



--
AMI MUSTAFA

Rabu, 17 Januari 2018

MENUNGGU LIAR

#30HariMenulis

Day 8 - 07-06-2016

Menulis FIKSI, dimulai dengan kalimat "Ternyata ia belum mati ..."

Ternyata Ia belum mati..berdenyut liar di bawah sana, menunggu lengah mereka. Menyeringai licik seraya bergerak perlahan dan menghimpun kekuatan. Membiarkan orang-orang itu membusungkan dada dengan bangga dan berkata kalau mereka sudah terbebas. Dan membawa pulang tubuh letih mereka yang seharian tanpa henti membantu pemadaman.

"kenapa tak kau sudahi saja semua ini?" saudaranya si biru lembut dan bersahabat pernah menanyakan perihal kegigihannya bertahan.

"Ini di luar kendali ku..mereka yang memulai menugaskan aku menciptakan petaka ini" tukasnya 

"di dukung oleh dosa-dosa sebagian dari mereka sendiri aku bisa bertahan meski untuk sementara bersembunyi dulu di sini".

"Lalu akan sampai kapan?"

"Nanti..sampai nanti jika langit menangis membasahi lahan-lahan gambut itu dan menenangkan jiwaku" jawabnya ketus.

"Aku heran, bagaimana kau bisa bertahan seperti itu?" si biru lembut bertanya lagi. Si Merah mendengus.

"Kau tahu, kedalaman lapisan gambut  di area ini bisa mencapai 10--20m, aku masih dapat bersembunyi  sampai di kedalaman 5 meter, meskipun di permukaan tanah terlihat sudah tidak ada, tapi aku bisa tetap menjalar di bawah tanah dan nanti akan muncul lagi ke permukaan".

"Bagaimana kau bisa setega itu?" pekik si biru

"Aku?? Tega???" si merah meraung marah.

"Dengar ya saudaraku, Berhentilah menyalahkan ku. Aku sama saja sepertimu. Mulanya aku juga teman mereka, aku hanya membantu mereka. Tapi merekalah yang akhirnya membuatku jadi musuh mereka"

Si Biru terdiam. Benar yang dikatakan saudaranya, si Merah. Mereka bersahabat ketika kecil tapi jika besar dan tak terkendali, mereka bisa menjadi musuh.

Ketika musibah tahunan kabut asap yang terjadi di Riau berulang dan korban berjatuhan, mereka lah yang disalahkan dan dimaki. Dikejar, dihalau dan disemprot. Sampai mereka kucar-kacir, sebagian padam dan beberapa sembunyi di kedalaman lahan gambut, lalu  kembali menyala, menjalar dan membakar tanah gambut yang sengaja dikeringkan oleh manusia itu sendiri demi memuaskan kerakusan mereka membuka lahan dan merusak ekosistem. Lalu menghasilkan kabut asap yang membuat heboh negara ini. Tidak hanya negara ini tapi juga negara tetangga yang terkena dampak kabut asap.

Langit Riau tertutup. Penyakit ISPA menelan puluhan ribu jiwa. Maskapai penerbangan tidak beroperasi. Jarak pandang terbatas. Sekolah -sekolah terpaksa diliburkan. Belum lagi banyaknya kegiatan ekonomi masyarakat yang terhambat.

Orang-orang diturunkan ke lahan yang terbakar untuk membantu pemadaman. Tapi saudaraku yang sudah bertebaran menempati banyak titik tak semudah itu dihabisi. Mereka butuh menggali dan memadamkan saudara-saudaraku dengan menyemprotkan air di kedalaman sampai 5 meter. Dan itu sungguh tidak mudah. Selain butuh alat dan air dalam jumlah banyak juga butuh tenaga yang tidak sedikit.

Pun jika manusia-manusia itu melakukan pemadaman dengan mengalirkan air agar membasahi lahan gambut itu sungguh sulit jika lahan tersebut tidak dekat dengan aliran sungai yang memiliki debit air yang besar.

Akhirnya kabut asap yang ditimbulkan oleh gerakan bawah tanahnya saudara-saudaraku  Sang Jago Merah bertahan hingga berbulan-bulan. Dan orang-orang memaki kami sebagai biang keladi. Mereka berandai-andai punya avatar pengendali api atau pengendali air agar bisa menurunkan hujan lokal sederas-derasnya agar api di dalam lahan gambut mereka benar-benar habis padam.

Jika panas tidak selama dan seterik sekarang, jika lahan-lahan gambut itu tidak dikeringkan, jika manusia tidak serakah mencari jalan mudah dengan membakar lahan, jika saja musim penghujan segera tiba mungkin derita kabut asap di langit Riau tak akan sebegitu lama. Dan saudara ku si jago merah akan berhenti membuat asap dimana-mana.

Malam merambat gelisah. Sisa-sisa pembakaran masih mengepul dimana-mana. Menutup langit, bahkan embun malam tak leluasa menitik ke bumi terhalang asap yang membentangi alam. Di sebuah lahan gambut yang siang tadi ramai didatangi sukarelawan pengendali kebakaran, setitik cahaya perlahan merambat liar, menari bersama angin malam. Mendesah, meliuk dengan seksi menjulurkan lidahnya menelusuri sekujur tubuh alam, dan lalu bayang putih membumbung tinggi ke udara..kabut asap....

                   *************


[repost from qberitakan by amimustafa]

--
AMI MUSTAFA

ARA

Kembali dari perangku meski tanpa bentuk

Jika belum tiba waktu janji

Biar setan belang hantu belau

Tak bisa memaksa meragah sukmaku


Lalu apa lagi yang d takutkan

Tidak dia, mereka, juga kau!!

Tak peduli yang tersirat dan tersurat

Tak peduli coreng moreng yang tergurat


Apa lagi yang ditakutkan

Jika bahkan maut enggan mendekap

Belajar dari serumpun ilalang

Yang tercerabut tapi kembali tumbuh esok pagi


Bahkan sebatang kayu ara sanggup tumbuh di sela bebatuan padas


[repost my fb-note]

--
AMI MUSTAFA

Senin, 15 Januari 2018

MAKAN SIANG TERAKHIR (repost)

#30HariMenulis, Day 10 
- Tulislah cerita dengan setting waktu PRA KEMERDEKAAN sekitar tahun 1940-1945 -
                   ________________
Ahiok makan dengan lahap lempah kuneng yang dimasak Amma-nya. Ini menu langka. Jarang sekali Amma bisa menyajikan menu sehebat ini. Lempah kuneng ikan mayong, rebus pucuk ubi dan rusip. Rusip adalah olahan ikan teri yang sudah difermentasi. Biasanya disajikan mentah dengan irisan bawang merah dan cabe rawit. Dicocol dengan rebusan daun singkong dan dimakan saat lapar dan lelah sehabis bekerja di tambang, hmmm...benar-benar nikmat.

" Ma, nek agik (:mau lagi) kuah lempah ni ma..nyamen (enak) wo masakan amma ni " pujinya sambil menghirup kuah lempah kunengnya. Sambil menyeka keringat yang membasahi dahi. 

" Lah, jadilah, yok. Appa ka lom kebagian" Amma menolak menambah isi mangkuk Ahiok. Karena memang masakan yang dibuatnya tidak banyak. Butuh ketegasan baginya agar bisa memastikan seluruh anggota keluarga kebagian jatah makan yang memang minim.

"Aoklah pun (Baiklah). Appa lom pulang e? lame ge appa ni"

Biasanya appa-nya pergi ke kolong (lubang besar tambang timah)  bersama dengannya mencari timah. Tapi hari ini adalah hari jumat jadwal Nam Lie, ayah Ahiok menyetor timah ke gudang Babah Asiung. Itulah sebabnya Thaiji Awe, ibunya, bisa memasak menu luar biasa hari ini. Menyetor timah ke gudang berarti pemasukan uang ke kantong.

"Tadik appa ka la pulang, sudeh mawak (:membawa) laok buat dimasak die pergi lagi ke rumah Babah Asiung" jelas Amma-nya.

Sebenarnya Thaiji Awe sudah mulai gelisah mengingat suaminya pergi sudah cukup lama. Apa kiranya keperluan Babah Asiung memanggil suaminya. Thaiji Awe sebenarnya kurang suka suaminya bergaul dengan Babah Asiung diluar urusan jual beli timah. Karena selentingan kabar didengarnya kalau Babah Asiung sering membantu perjuangan Laskar Bangso Kawa melawan penjajah.

Mereka hanya rakyat kecil yang lemah. Cukuplah baginya suaminya mengurus perut keluarga saja. Dia ngeri membayangkan kekejaman tentara-tentara Belanda itu terhadap orang yang mereka curigai membantu Laskar Bangso Kawa.

"Assalamualaikum..."  tiba-tiba terdengar suara lembut namun terkesan ketakutan dari luar rumah

"Thaijii...Assalamualaikuum.."

"Yaaa..Waalaikumsalam.." dibukakannya pintu dan dilihatnya Amnah, kembang desa anak Pak Ustad Abdul Majid atau Atok Majid, datang tergesa-gesa dengan wajah pucat pasi.

"Amnah..ade ape?? masuklah"

Amnah bergegas masuk dan langsung menutup pintu kembali. Ahiok melongokkan kepala ke ruang tamu.

"Waalaikumsalam Amnah.." Ahok menjawab salam sambil mencuci tangan menyudahi makan siangnya. Lalu beranjak ke ruang depan. Tapi Amnah mengajaknya dan Amma kembali ke ruang makan dengan ketakutan.

"Ade ape, Amnah?" tanyanya heran melihat wajah Amnah yang ketakutan. "Ka la macem nengok (melihat) mawang (hantu) bai"

"Thaiji.., Ahiok.., aku baru saja dengar dari bapakku kalau Babah Asiung dibawa orang-orang Belanda. Rumah mereka direbut. Babah Asiung, keluarganya, para pekerjanya ditangkap. Dan termasuk juga Appa ka, Ahiok"

Bagai disambar petir di siang bolong Ahiok terkejut setengah mati. Kenapa Appa-nya ikut ditangkap? Apa karena kebetulan sedang berada disana saat kejadian penangkapan Babah Asiung? Ah sial sekali Appa.

"Ape kisaah...ngapa ko Nam ditangkap? " Thaiji Awe langsung teriak histeri. "Ahioook... cemane ni...??' cemane appa ka..ahioookk??"

Amnah dan Ahiok buru-buru menenangkannya. Mereka khawatir teriakan Thaiji Awe mengundang keributan dan memancing kedatangan orang-orang ke rumah mereka.

"Bapakku bilang kalau appa ka terlibat kek orang-orang Laskar Bangso Kawa. Selame ni appa ka bantu mereka jadi kurir.." jelas Amnah.

"Dari mane Atok Majid tau? Selame ni appa ku dak suah ( :tak pernah) kemana lah selaen ke kolong" bantah Ahiok. "Paling-paling gi pasar atau setor timah ke gudang Babah Asiung"

Sebenarnya beberapa kali ada juga Appa pergi menyebrang ke pulau Bangka bersama Babah Asiung untuk membeli alat menambang yang rusak. Tapi untuk menjadi kurir rasanya tidak mungkin. Appa adalah lelaki yang tidak banyak bergaul dan pendiam. Dia selalu fokus bekerja sebagai kuli timah dan jarang bertemu dengan orang-orang apalagi berkumpul-kumpul. Tubuhnya yang kecil ringkih hitam terbakar matahari dan wajahnya yang terlihat lemah terasa jauh sekali dari figur seorang pejuang.

"Ku dak tau kisah" tukas Amnah. "Pokok e kate bapak cepatlah ikak (:kamu/kalian) berkemas. Datanglah ke rumah kami. Bawa bekal secukup e bai"

Setelah itu Amnah bergegas pamit pulang meninggalkan Thaiji Awe dan Ahiok yang masih kebingungan.

Sepeninggal Amnah, mereka segera berkemas dengan sejuta rasa cemas. Tak banyak yang mereka bawa karena sebagai kuli timah hidup mereka terbilang miskin. Lalu mereka pergi menuju rumah Ustad Majid diujung kampung.

Atok Majid yang sudah menunggu kedatangan mereka duduk bersila di pondok mengaji di belakang rumahnya. Ahiok dan Thaiji Awe segera masuk dan memberi salam. Thaiji Awe bersimpuh di hadapan Atok Majid. Lelaki ini lah yang dulu menjodohkannya dengan Nam Lie yang saat itu baru menjadi mualaf.

Nam Lie, lelaki dari negeri Tiongkok yang mengadu nasib datang ke Belitong mengandalkan keahliannya mencari bijih timah. Yang mengira tanah Belitong akan mampu merubah nasibnya. Tapi sayangnya, jauh-jauh datang dari seberang dia malah jadi bulan-bulanan tentara Belanda, terjerat hutang pada tauke dan akhirnya diselamatkan oleh Atok Majid. Nam Lie tinggal di pondok mengaji Atok menjadi petugas kebersihan dan membantu pekerjaan-pekerjaan Atok. Atok menyukai Nam Lie yang rajin dan jujur lalu akhirnya menjodohkannya dengan Awwaliyah, keponakannya.

"Macam mane kisah ni, Atok..ape hal ko Nam pacak ditangkep? Dimane die kini? macem mane tok nasib kami ne kalau dakde ko Nam ?" Awe mulai meratap.

"Sudahlah, We..jangan ka cari jawab e. Pokoknya sekarang ini, sedikit ka tahu itu lebih baik. Ka turut bai aku." ujar Atok.

"Tapi macam mana nasib appa Ahiok, Atok?"

"Orang-orang Laskar Bangso Kawa akan mencari keberadaannya dan pasti akan berusaha menyelamatkannya." jawab Atok. "kita berdoa saja, semoga Nam selalu dilindungi Allah..begitu juga kita semua"

"Awwaliyah..." Atok Majid menepuk pundaknya "Ka sabarlah. Ini bagian dari resiko perjuangan, suami ka selama ini dipilih ketua Laskar Bangso Kawa mengemban tugas mulia. Identitasnya ternyata diketahui Belanda dan dia sudah jadi target mereka sejak lama." Tak tahan juak rupanya Atok menyimpan rahasia ini lama-lama. Lagipula Awe dan Ahiok perlu juga tahu tentang ini.

Awe dan Ahiok terkejut mendengar penjelasan Atok. Terlebih Awe, selama ini suaminya tak pernah cerita apĂ  pun. Tak nampak gelagat apa pun tentang kegiatan perjuangan Nam Lie.

"Sejak kapan Appa membantu mereka, Atok?" Ahiok yang sedari tadi diam penasaran angkat bicara.

"Sejak Ia diselamatkan ketua Laskar Bangso Kawa dan dinikahkan dengan keponakannya."

Thaiji Awe dan Ahiok sama-sama ternganga. Jadi Atok Majid adalah...??

Sesuai rencana tepat dini hari mereka berombongan berangkat ke Sijoek. Ahiok memandangi kampungnya untuk terakhir kali. Samar-samar bibirnya tersenyum teringat makan siangnya kemarin. Makan siang terakhir dalam kedamaian. Mungkin esok lusa ia bahkan tak kan sempat lagi makan siang dengan tenang.

Keesokan harinya, Sabtu, 28 Februari 1942, Jepang melakukan serangan udara terhadap Belitong. Ini menimbulkan kepanikan luar biasa, sekolah ditutup, orang-orang kota bersembunyi ke hutan dan kampung-kampung. Dan terkoyaklah damai itu.

              ************************


NOTE :
[repost. tulisan ini pernah diposting disitus lain untuk memenuhi tugas dari kegiatan #30HariMenulis]
--
AMI MUSTAFA

Jumat, 05 Januari 2018

BAHAGIA SENYAP DI DADAMU

Yang kulakukan hanya terdiam
Dan memandangimu
Seraya memeluk kenangan tentang kita yang berlalu lalang d kepalaku
Berlompatan dari satu keindahan ke keindahan lainnya
Memulas bahagia dengan senyum dan tawa kita

Jangan sematkan luka disana
Jikapun ada goresan yang tak sengaja
Maka ketulusan akan membasuhnya segera
Satu dua tiga dan banyak kecupan serta cinta
Tak lekang meski rindu kelabu berjelaga dalam sunyi

Hujan rintik-rintik yang menghiasi malam
Tak sanggup menyembunyikan indah sang kelam
Seperti aku yang tetap bisa merasakan
Peluk eratmu pada hati dan jiwaku
Hangatnya merayapi seluruh tubuh hingga hilang kesah

Selimuti aku dari dingin yang mencengkram
Setelah habis secangkir arabica yang hadirkan engkau
Eratkan simpul rasa kita di dadaku
Dan baringkan jiwamu d sampingku
Lalu menyelusuplah dalam mimpi indahku


                   *************

*Lov u*


Kamis, 04 Januari 2018

MEMBELI SENYUM

Ibu, maukah kau membeli senyumku?


Tentu nak, berapa harga yang harus ibu bayar?


Sangat mahal bu, tapi sangat mudah


Katakan nak


Ikutlah denganku, temani aku


Nak, tentu kau tahu itu sangat sulit


Sulitkah ketika ibu menemani teman ibu?


Nak...


Ini aku bu, anakmu, yang meminta


Tapi nak..


Pernahkah ibu mengatakan tapi pada mereka?


Kau tau situasinya berbeda


Lalu, terlalu mahalkah permintaanku, bu?


Aku bahkan pernah mempertaruhkan 


nyawaku untukmu nak


Lalu terlalu serakahkah aku jika hanya meminta d temani seperti dulu bu


Nak, cobalah mengerti


Aku mengerti saat ibu menghabiskan waktu bersama mereka


Tapi ibu selalu ada kapan saja kau ingin


Itulah sebabny sekarang aku ingin sekarang ibu bersamaku


Nak, saat ini..


Bu..aku lebih suka saat kita d tempat yang dulu, dimana kita bisa bersenang-senang bersama


Bukankah saat ini kita selalu bersama?


Hanya satu atap, dan itu berbeda


Anakku, kau sangat tau betapa ibu menyayangimu


Maka itu, kali ini saja, marilah bersamaku


Nak,...


Jangan membuatku menyesal telah datang kesini


Ah, nak... ya sudahlah..mari ibu temani


Ibu, tutuplah matamu, jangan lihat yang lain, lihat aku saja


Baiklah nak


Percayalah aku tak kan meminta lebih


Sungguhkah?


Iya bu, hanya temani aku, bukan yang ibu tak bisa melakukannya

--
AMI MUSTAFA

ARAK TANGISAN


Kuteguk lagi arak bercampur debu

Dari botol yang tersimpan di lantai batu

Aromanya bau membuat haru

Menguras airmata yang hampir beku


Ijinkan raungan naga itu

Biar hanguskan sejuta ragu

Yang erat cengkram membelenggu

Pada cinta yang sungguh semu


Percayalah perempuanku

Hanya kau saja yang bisa usap airmata itu

Karena tak ada yang sungguh tahu

Bagaimana caranya memeluk sendu mu


Percayalah perempuanku

Bahkan aku tak bisa tahu

Bagaimana mengusap airmata mu

Yang ku bisa hanya sediakan bahu


Biarkan api naga membakar dada mu

Hingga keluar senyum itu walau sendu

Jangan merusak pesta dengan kelu mu

Telan saja hingga mual lambung mu


Teguklah sedikit arak rindu ini buatmu

Akan kubagi kau usah ragu

Tuangkan airmatamu

Agar jangan ia beku dalam kalbu mu


Menangislah hingga penuh kotakmu

Agar kau hadir senyum dan tawa mu

Simpan sendiri dan jangan lagi tergugu

Karena yang mengerti hanya dirimu bahkan bukan aku

--
AMI MUSTAFA