Selasa, 06 Juni 2017

DICULIK HANTU






berkali-kali diabaikan, kalau ditambah sekali lagi itu gak apa-apa. Sungguh gak apa-apa. Aku berbalik meninggalkan mereka pelan-pelan. Berjalan menunduk menyeret kantong mainan ku ditangan kiri dan seekor burung yang sekarat ditangan kanan.


#30HariMenulis - Day 6

Tak ada yang memperhatikan ku pergi. Tidak pula ada yang perduli airmata ku yang nyaris tumpah. Mereka masih sibuk menghitung hasil panen yang mereka petik hari ini. Begitu juga Bapak dan Ibu. Ibu bahkan sempat menepis tanganku saat kutunjukkan burung kenari ku yang sekarat. Aku butuh pendapat apa yang harus kulakukan dengannya. Alih-alih menjawab Ibu malah menyingkirkan tubuhku yang menghalangi timbangan.

Tubuhku yang mungil nyaris tak terlihat menyelinap diantara para kuli perkebunan dan keluar dari kerumunan.

Aku terus saja berjalan. Pelan seolah menghitung satu persatu langkahku dan berharap di langkah kesekian ada yang memanggilku dan meminta ku kembali. Tapi sampai jauh aku berjalan, sampai letih kaki ku melangkah, tak juga ada yang memanggil. 

Tak lagi menjadi 'tidak apa-apa' kemarahan dan kecewaku meledak. Ku tumpahkan pada daun-daun dan buah kopi di sepanjang jalan setapak yang kulalui dengan menjambak dan mencabik mereka lalu menghamburkannya ke jalanan.

Aku tidak menyadari kemana arahku berjalan. Yang kurasakan hanya aku berjalan di jalan setapak yang luruuuuus jauh dengan kiri kanannya pepohonan serupa pintu gerbang melengkung yang sedang merentangkan tangannya untuk memelukku.
Sementara bunyi Tonggeret terdengar seperti hymne yang mengiringi langkah seorang putri di balairung kerajaan.

Ketika aku tersadar, hari mulai gelap. Angin senja mulai merayapi tubuhku. Aku melihat sekeliling. Hanya hamparan pohon-pohon kopi berhias buah merah hijau berkilat. Beberapa bunga kopi berwarna putih masih terlihat menghiasi serupa mahkota cantik nan wangi. Aku tidak tau berada dimana.

Tiba-tiba saja aku tak dapat melihat jalan yang tadi kulalui. Aku bahkan tidak ingat kemana barang-barang yang tadi kubawa. Aku mulai gelisah. Berpikir untuk pulang. Tapi bagaimana? Aku menyusuri barisan pohon kopi berusaha tetap lurus satu ruas. Tapi tetap saja tak ada jalan setapak tadi. Aku mulai ketakutan. Dan menangis.

Gigitan nyamuk di kulitku tak lagi ku perdulikan. Pun nyamuk-nyamuk yang merubungi seluruh tubuhku. Dingin, gelap, sendiri. Betapa kecewanya aku. Tak ada yang perduli. Apa mereka tidak merasa kehilanganku? Umurku masih lima tahun, dan mereka tidak perduli anak lima tahun sudah masuk gerbang malam begini tidak ada di rumah. Aku sungguh kecewa dan terluka.

Aku berhenti menangis. Walau masih dicekam rasa takut yang luar biasa. Seolah kegelapan menjadi sosok raksasa yang mendekapku. Belum lagi bunyi-bunyi serangga malam yang mirip seperti orang sedang mengobrol hiruk pikuk. Aku duduk meringkuk bersandar di batang kopi.

Kedinginan, letih, ketakutan, kecewa, marah dan tak berdaya membuat tubuhku serasa tak bertulang. Aku mulai mendengar suara-suara aneh. Seperti suara lebah. Kilatan-kilatan cahaya dan suara-suara tapak kaki di daun kering.

"Maylaaa....."

"Maylaaaaaaa....."

Sayup-sayup kudengar namaku dipanggil. Aku diam saja. Aku tak mampu memutuskan harus menjawab atau diam saja. Akhirnya ya aku diam saja. Pikiranku terasa kosong.

"Aku menemukan mainannya di sekitar sini" ujar seseorang.

"Benar, daun-daun dan buah kopi yang berserakan seperti sengaja di hambur juga mengarah kesini" timpal yang lain. Sinar lampu senter terlihat menyorot kesana kemari.

"Maylaaaa...." itu suara Bapak.

"Maylaaaaa..." aku mengenali suara Ibu.

Mereka terus berteriak memanggilku. Semua orang memanggilku. Untuk apa? Kenapa tadi sore mereka tak perduli. Aku sedikit lega mereka akhirnya menemukanku meringkuk ketakutan ditumpukan daun kering bersandar di batang kopi. Dengan tubuh dingin, wajah pucat dan tatapan yang kosong. Kudengar mereka saling berbisik melihat kondisi ku yang demikian bahwa aku baru saja diculik hantu.


                                     ******************


Senin, 05 Juni 2017

SINAR

#30HariMenulis - Day 5

Aku tertidur di kamar belakang. Diam-diam matahari mengusap rambutku. Membelai wajahku. Hangat. Aku diam saja. Persis seperti dulu jika Ibu diam-diam mendatangi kamarku, memeriksa luka yang kudapat hasil terjun bebas di jalanan kampung saat bersepeda. Tadi Ibu mengomeliku habis-habisan. Mungkin dia menyesal. Diusapnya kepalaku. Dirabainya wajahku. Aku terjaga tapi pura-pura tetap tidur. Sampai dia menciumku dan pergi meninggalkan kamarku.

Matahari mungkin gemas karena aku diam saja. Dijelajahinya wajahku. Makin lama makin panas. Aku bergeser kesamping. Matahari menyentuh bahuku. Aku berputar 30 derajat. Memunggungi matahari. Diam-diam matahari mengejarku, mengapai punggungku. Aku berputar lagi 30 derajat. Sekarang matahari merayapi kaki ku. Panas. Matahari terlalu terik. Atau ia terlalu memaksa minta perhatianku? Sepertinya aku harus pindah ke kamar lain.

Tapi tubuhku masih lemas. Malas bangkit dari tempat tidur. Jadi kugeser lagi tubuhku. Amaan. Tak lama. Kembali matahari menyentuhku. Aku berbalik. Memandang ke luar jendela. 

Matahari memang terik. Seolah kulihat dia tersenyum lebar. Pas betul buat jemur-jemur. Tiba-tiba aku teringat cucian di mesin cuci yang belum ku keluarkan.

Astaga,...aku lupa. Aku belum menjemur cucianku. Aku bangkit dari tempat tidur. Matahari rupanya mengingatkan ku kalau dia nyaris turun dari titik tertingginya. Sementara tadi aku baru mencuci bedcover yang kalau tidak langsung kering akan berbau tidak sedap. Aku menoleh pada matahari dan bilang :

"terima kasih sudah mengingatkan ku" ucapku sambil tersenyum. Entah kenapa lagi-lagi aku seperti melihat matahari tersenyum manis seperti ikon smiley berwarna kuning itu.

Aku bergegas ke dapur. Mengeluarkan cucian dan membawanya ke belakang. Kebun tempat aku biasa menjemur pakaian. Kubiarkan matahari memeluk seluruh tubuhku. Aku hanya tersenyum menatap ke arahnya sambil menyipitkan mata. Silau.

"Peluklah aku, sesuka mu. Tidak mengapa jika kulitku akan menjadi gosong" ujarku padanya.

Matahari tergelak.

                                         *******************

Sabtu, 03 Juni 2017

IDE DAN MOOD LAGI TERJUN BEBAS

#30HariMenulis - Day 3
(Task : Buatlah tulisan dari sudut pandang seorang Ibu, kalau kamu bukan ibu, berimajinasilah)

Inspirasi bisa datang kapan aja. Dimana aja dan saat lagi gimana dan apa aja. Kadang pas lagi mandi cibang cibung..tinggg.. tiba-tiba ada lampu di atas kepala. Kepikiran mau nulis apa gitu. trus mulai dah ada mesin ketik di otak yang cetak cetek cetak cetek mulai ngetik cerita dengan lancar dan ngaliiir banget. 

Begitu selesai mandi rencana sih mau buru-buru ngetikin ide yang tadi udah diketik di otak. Mau dipindahin ke hengpong biar gak lupa. Eh dilalah itu aer di teko bersiul udah nguing nguiiing berisik tanda airnya dah mendidih. Jadilah ngurusin aer dulu. Matiin kompor. Sekalian ah tuang aernya ke termos. Duh aernya malah tumpah-tumpah ke lantai. Daripada ntar becek bikin kepeleset mending di lap dulu deh. 

Ujung-ujungnya terlupakanlah niat menuangkan  ide di kamar mandi tadi . Langsung aja ganti baju. Make-up an..wangi-wangian. Setelah selesai baru ngambil hp dan mulai menulis. Inget-inget lagi aja ide tadi. Hmmm...tapi kok jadi susah ya nyusunnya. 

Perasaan tadi di kamar mandi lancar jaya, plotnya udah kena banget . Duh apa kudu balik lagi neh ke kamar mandi? bila perlu nongki sejenak di wece? tapi itu emang pernah ku cobain loh. Alhasil ya tetep mentok juga. Hadeh. Seriing bener kejadian kayak gitu.

Nah, itu terjadi juga untuk mood. Pas lagi lancar-lancarnya nulis rasanya ada jutaan kata yang bisa dituangkan. Bakal banyak paragraph, bakal ada sequel, bakal bersambung.  Widiw, dengan semangat 45 ngetiiik ampe banyak. 

Tiba-tiba si Asa teriak histeri dari halaman,

"Mamaaaaahh!!..."

Aku kenal betul nada suara itu. Teriakan yang gak boleh diabaikan. Biasalah..naluri emak-emak. Langsung aja hp ditinggal dan bergegas nyamperin Asa. Kulihat dia lagi jongkok disamping bunga matahari tanemannya. Mukanya terlungkup di pangkuannya.

"Kenapa sa?

Dia diem aja. Ku hampiri, ku lihat bunga mataharinya yang sudah geletakan disamping pohonnya. Tercabik-cabik. Padahal dari kemaren Asa sudah merengek gak sabaran mau petik tapi ku bilang bijinya belum cukup tua jadi tunggu beberapa hari lagi.

Aku bisa bayangin dah perasaan Asa gimana. Bunga yang disemai sendiri, ditanem, disiramin tiap sore, pas mulai berbunga dengan bangga dia fotoin trus dipamerin ke kakaknya yang di luar kota, dia tunggu sampe itu bijinya siap buat dipetik, -Asa suka makan kuaci-, tau-tau sudah tergeletak di tanah, dicabik-cabik anak- anak bandel tanpa perasaan. Olala..how poor..

Aku gak ngomong apa-apa. Ku raih bahunya, kubantu angkat berdiri. Asa mandangin aku, mukanya bilang kalau dia marah, kesal, kecewa, butuh mengomel dan memaki panjang pendek.

Aku ngangguk, ngeyakinin dia buat mengekspresikan perasaannya. Dia buang muka, nghampiri kembangnya, dan mulai ngomelin anak-anak bandel yang menganiaya bunga kesayangannya. 

" Mamah...!!..Aku....." dia keabisan kata dan matanya udah mau nangis.

"Kesel banget ya? Mau nangis? Sini peluk mamah"

Kubentangin kedua tanganku. Pelan-pelan Asa ngedeket, meluk aku dan nangis dah. Sebentar aja. Udah itu dia langsung beresin tanemannya lagi.

Huffffhh...inilah..mom's duty. Gak banyak kan, just show you care. 

Sudah tenang, sekarang bisa lanjut lagi nulis. Pas mau mulai lagi kok mood ilang. Udah dicari di kolong meja, di langit-langit, di balik bantal, di bawah kasur, di antara bisikan angin, di pahitnya kopi klasik, di helai-helai dedaunan, di antara bintang gemintang, di antara rindu tak bertuan, di kedalaman hati mu -helehhh..hahahah..lebay- tetep aja gak ada. Mandek dah. Ya udah ditunggu lagi aja lah mood-nya.

Tapi gimana kalau tulisannya sudah ditunggu. Pake tenggat. Terpaksalah tulis aja yang bisa ditulis. Ya kayak sekarang ini nih contohnya. Aku nulis apa aja jadinya. Padahal kemaren punya ide mau terusin cerita Point Turning yang masih panjaaaaang. Karena yang kemaren itu sebenernya masih awal kisah. Belum tengahnya apalagi akhirnya.

Tapi aku sakit gara-gara keujanan, kurang nutrisi dan jarang olahraga, hehe. Tau-tau aku jadi males nerusin ceritanya. Tiba-tiba gak tau harus mulai dari mana. Gak tau mau disusun kayak apa plotnya. Hmmm..

Sudahlah. Semoga besok mood dan ide berjalan lagi seperti seharusnya. Kuambil hammock, iketin kedua ujungnya di pohon kakao, baring-baring disitu nemenin Asa berkebun. Siapa tau dapet ide lagi :D

                                               *****************

Jumat, 02 Juni 2017

TURNING POINT


#30HariMenulis - Day 2

Kubanting laporan keuangan ditanganku. Kusapu semua benda diatas meja kerjaku. Aku muak. Marah. Kesal. Kecewa. Aku lelah dengan semua ini.

Pendapatan yang terus menurun. Tagihan bank. Kesulitan pasokan. Penunggakan pembayaran. Belum lagi gaji karyawan yang harus dibayar.

Kuhempaskan tubuh di sofa. Kupejamkan mata. Apakah semua ini bisa kuatasi...aku sudah mencapai titik jenuh. Sepertinya aku butuh pergi beberapa waktu.

Kutinggalkan kantor sambil berpesan pada Selly untuk membereskan ruanganku dan membatalkan semua acaraku hari ini. Aku mau pulang.

Di rumah aku termenung sedih. Rumah ini sudah lama kosong. Istri ku pergi karena tak tahan pada ku yang gila kerja. Kami berpisah dan dia membawa serta anak-anak.

Aku tersenyum miris. Benar yang dikatakan Ayu, pada akhirnya aku hanya diperbudak pekerjaan. Dan berakhir dengan tidak memiliki apa-apa.

Teman? Aku hampir tidak punya teman. Teman ku hanyalah mereka yang ada di sekelilingku saat aku senang saja. Ketika aku terpuruk mereka selalu punya alasan untuk menghilang. Jangankan dimintai bantuan, dimintai waktu untuk curhat saja mereka enggan.

Pernah beberapa hari lalu aku minta tolong urus pengiriman barangku yang terhambat, tapi malah di oper kesana kemari.

Peraturan penambangan timah inkonvensional makin ketat. Aparat-aparat yang dulu rajin merapat ke rumahku untuk 'silaturahmi' sekarang malah ikutan merazia tambang-tambang milikku. Padahal dulu setiap ada razia mereka rajin membisiki ku.

Bankir-bankir yang rajin ikut klub lari ku agar lebih mudah melobi sekarang mulai kasak-kusuk menghitung asetku yang bisa disita. Jangankan menyetujui penambahan pinjaman..memberi penangguhan sita saja mereka sulit.

Aku muak dengan semua ini. Aku sudah tidak tahan lagi. Kutelpon Thomas, orang kepercayaanku. Yang biasa menjalankan usaha bersamaku. Dia yang masih selalu setia mendampingiku dalam susah dan senang. Tidak hanya di perusahaan, dalam kehidupan pribadi pun kami sangat dekat. Aku percaya penuh padanya.

Thomas bergegas datang tak lama setelah aku menelponnya.

Dia menghela nafas panjang melihat rumah berantakan.

"Pembantu sudah lama gak pernah datang?" tanyanya.

Aku diam saja. Dia mengambil minuman dan duduk di sebelahku. Menyalakan rokoknya dan terdiam. 

"Tom...aku bosan dan muak. Aku mau meninggalkan semuanya" kataku memula percakapan. Dia masih saja diam tak bergeming. Mungkin dipikirnya aku hanya butuh meluapkan emosi seperti biasa jika ada masalah.

"Kuserahkan semuanya ke kamu, uruslah. Jual semua alat berat, bayar gaji karyawan. Tagih piutang kita dan lunasi hutang-hutang di bank. Yang tidak bisa diselamatkan biar saja disita atau usahakan jual. Tunggakan pajak dan uang bulanan anak-anakku tolong kau urus. Aku mau pergi"

Dia bergeming. Menatapku lekat-lekat. Aku membalasnya tanpa berkedip untuk meyakinkannya bahwa aku sudah bertekad bulat.

"Kita masih bisa mulai dari awal lagi." katanya

Aku menggeleng

"Capek,Tom"

Tom mencengkram lengan ku. Menatap tajam. Mencari kesungguhan dimata ku. Lalu tangannya terkulai dan dia menunduk dalam. Dia sangat mengenalku. Hafal bahasa tubuhku. Tau kalau aku bersungguh-sungguh.

"Aku ikut kamu bertahun-tahun, mas. Kamu sudah seperti kakak, guru dan orang tua buat ku. Jatuh bangun kita bersama. Aku mengagumi mu sebagai lelaki tangguh, negosiator handal dan pengusaha yang murah hati. Kamu berkali-kali gagal dan berkali kali kali kalii berjaya...aku gak percaya akan berakhir begini"

Kudengar suaranya bergetar. Ada sedikit isakan. Kutepuk bahunya. Banyak yang ingin kukatakan tapi aku hanya diam.

Pagi-pagi sekali aku sudah turun ke ruang tamu dengan membawa ransel berkapasitas 80L berisi barang-barang pribadi ku. Tom menatapku sedih.

"Aku segini saja" kataku sambil melirik ransel.

"Yang lain-lain terserah kamu"

Kuserahkan padanya setumpuk dokumen, buku rekening tabungan pribadi dan kunci-kunci.

"Aku yakin dan percaya kamu tau apa yang harus kamu lakukan." kataku mantap.

"Setidaknya bawalah mobil. Atau motor?" bujuknya. Aku menggeleng.

"Ayo antarkan aku ke bandara. Kita sarapan disana saja"

Tom mengusap wajahnya. Menutupinya sejenak. Menghempaskan nafasnya dan memandangiku tak berdaya. Aku mengangguk mantap. Akhirnya tanpa berkata-kata lagi diraihnya ranselku menuju mobil.

"Let's go!" teriaknya. Aku tersenyum gembira.

"Kabari aku ya mas kalau sudah tiba" ujar Tom sambil menyetir dalam perjalanan ke bandara. Aku menggeleng. Tersenyum.

"Aku juga meninggalkan hp ku"

"What?!!" Tom terbelalak. "Lalu gimana aku bisa menghubungi mu? Kalau aku harus buat keputusan dan butuh pendapat mu??"

Aku tertawa. Lagi-lagi kutepuk bahunya kali ini lebih keras.

"Pokoknya semua terserah kau boy"

Dia mendengus kesal. Aku pura-pura tak melihatnya.

"Nanti Tom..beri aku waktu. Kalau sudah tiba masanya, kau bolehlah kunjungi mas mu ini di kampung dan kita akan bicara banyak."

Kami tak bicara lagi..pun tidak saat sarapan di Bandara. Kami hanya berpelukan ketika sudah waktunya aku pamit untuk boarding.
 
                                                   ************

Aku terpaku dihadapan dua makam yang sudah sangat lama tak ku kunjungi. Alih-alih pulang kerumah, aku malah langsung ke pemakaman keluarga. Kusingkirkan rumput liar di atasnya. Ibu..Bapak..aku pulang. Bisikku. Sebentar saja disana lalu aku beranjak pergi.

Ada rasa enggan untuk pulang ke rumah. Disana sepi, tak ada siapapun. Rumah itu dibiarkan kosong dirawat tetangga sebelah.

Aku memilih ke perkebunan dengan diantar ojek. Tukang ojek menatapku sekilas ketika kusebut mau kemana. Mungkin dia heran ada orang segagah aku dengan ransel tingginya yang  padat pulang menuju perkebunan itu..haha.

Aku meminta tukang ojek berhenti diujung jalan dusun kecil di perkebunan itu. Karena untuk menuju pondok kebunku yang berada di bukit rasanya akan menyulitkan buat motornya yang agak tua. Aku membayarnya dan dia segera pergi.

Kutatap bukit di depanku. Dulu, duluuu sekali, disana ada rumah di tepian hutan. Bersih, asri, hijau. Dengan tangga tanah jika mau menuju ke rumah.
Rumah itu menghadap ke lembah. Diantara lembah itu ada bangunan silouette istana,  begitu jika terlihat dari kejauhan, dengan kabut menghiasi setiap pagi atau menjelang malam.

Rumah kayu dengan teras depan yang rendah. Lantai terasnya  dari batu putih yang ditata bagus. Atapnya agak menjorok agar  tidak tempias jika hujan.

Ada tanaman hias yang membatasi halaman dengan tebing yang agak curam. Di sudut ada gazebo tempat bercengkrama setelah lelah berkebun. Di tengah gazebo ada gantungan untuk hiasan. Kami menempelkan kulit kayu trembesu disana sebagai ornamen.

Kutelusuri perlahan jalan akses kesana, jalan setapak dengan batu hitam kasar.

Aku terpana saat tiba di depan pondok. Rasanya tak percaya aku ada disini lagi. Sayang keadaannya tak lagi seperti dulu. Kusam dan sedih.

Dulu disisi kanan kirinya ada landscape rumput hijau yang terawat rapih. Sekarang rumputnya tumbuh tinggi tak beraturan. Di gazebo ada kepingan bambu bergantungan yang akan menimbulkan suara saat tertiup angin. Sekarang bambu-bambu itu masih berbisik lirih seolah mengucapkan selamat datang padaku.

Rumah kayu dengan tiang kokoh dari kayu Gelam. Dulu lantai kayunya bersih, hitam karena sering digosok dengan minyak. Aku merogoh ke balik tiang yang menempel ke dinding. Dulu kami biasa menyimpan kunci disitu. Hmm..syukurlah, masih ada. Aku bergegas membuka pintu dan masuk kedalamnya. Perlahan kutatapi ruangan- ruangannya yang menyimpan banyak kenangan. 

Ruang tamu dengan kursi besar yang bisa dipakai untuk tiduran, ruang makan mungil dengan perabotan kayu harimau yang hanya di melamik tanpa cat, dan tungku dari tanah liat.

Kamar tidurnya luas. Berlantai kayu  cendana. Wangi meski berdebu dan kotor. Kuletakkan ransel ku disana. Aku baru melepas  kemeja flanel ku dan mengenakan kaos oblong ketika aku mendengar suara-suara di luar. Aku bergegas keluar.

Tiga orang pria dan seorang perempuan menghampiri ku. Kusodorkan tangan mengajak bersalaman.

"Maaf, ini mas  Ardy?" tanya pria yang lebih tua dengan sopan. Aku tersenyum mengangguk. Dia menghambur memeluk dan menepuk-nepuk punggung ku.

"Ya Allah leee..Alhamdulillah kita masih bisa bertemu disini. Alangkah lamanya kamu ndak kemari le" katanya dengan suka cita. Dia paman penggarap perkebunan yang sudah puluhan tahun ikut keluarga kami. Aku tertawa. Dia menatapku,

"Masih inget ora karo aku le?" tanyanya

"Yo inget lah Pakde, Pak Wondo, toh" jawabku. " Dulu aku suka merengek minta dibuatkan kereta sorong, ketapel atau bermacam mainan sama Pakde"

Dia tergelak senang. Lalu memperkenalkan anak dan menantunya yang sedari tadi memandangi kami. 

Aku mengungkapkan keinginanku untuk tinggal di pondok. Pak Wondo sangat senang dan menyuruh anak-anaknya membersihkan pondok.

Kami bersama-sama bekerja membereskan semuanya hingga kembali seperti mula lagi.

Aku tersenyum puas memandangi pondok yang sudah kembali cantik. Kami duduk mengobrol di gazebo sementara menantu Pak Wondo menyiapkan makanan. Lalu kami makan bersama.

Tak terasa hari mulai gelap. Mereka berpamitan dan berjanji akan datang lagi menjenguk ku. Mbak Kirah membawa kain- kain kotor untuk dicuci. Dia juga tadi sudah memasakkan air minum dan suaminya sudah mengisi bak air di kamar mandi.

Kunyalakan lampu minyak yang terdiri dari campuran minyak kelapa dan minyak sereh. Cahayanya terang dan tidak berjelaga, minyak sereh membuat aromanya wangi dan jauh dari nyamuk . 

Kuhempaskan tubuh di kursi besar itu. Penat rasanya tubuhku. Tapi pikiranku jadi lebih tenang, ringan dan segar. Suara serangga malam menemaniku menggantikan musik hingar bingar yang biasa kudengar.

Tak ada televisi, tak ada handphone, tak ada berita-berita yang memusingkan kepala. Tak ada telepon tanya ini tanya itu nego ini nego itu. Aku tersenyum membayangkan Tom mengomel karena terpaksa mengambil alih tugasku.

Kupandangi poster yang tergantung di dinding, foto Pak Soeharto dan Tri Sutrisno yang kertasnya menguning.  Dan Radio transistor tua kesayangan ibu di lemari kayu.

Tanpa sadar aku bangkit berjalan menuju radio itu. Kuraih kain lap dan berniat menyekanya. Aku tersenyum ingat dulu sering berebut menempelkan kuping disitu untuk mendengar sandiwara radio.

Kuseka debu dari badan radio yang terbuat dari kotak kayu itu. Tak sengaja aku menyentuh sesuatu dibaliknya. Kuangkat radio itu untuk melihat apa gerangan yang ada dibelakang kotak radio tua ini.

Sebuah kulit kerang. Yang sudah halus diampelas. Warnanya kehijauan sedikit berdebu. Bagian dalamnya putih mengkilap. Ada pahatan hurup. Kubersihkan debu yang menutupinya dan mendekatkan ke lampu. Aku terkesiap disitu terpahat nama ku..dan namanya,.. Mayla..

Aku ingat dia memberikan ini saat kami berduaan di sungai dibawah sana. Dan itu terakhir kali aku melihatnya.

Mayla adalah anak pemilik perkebunan yang berbatasan dengan perkebunan kami. Kami sering bertemu setiap kali sedang berada di perkebunan. Bermain bersama. Aku minta Pak Wondo membuatkan kereta sorong. Mayla akan naik diatasnya dan aku akan berlari suka cita mendorongnya. Kami tertawa tawa gembira.

Tumbuh remaja bersama, saling sayang, saling cinta. Berjalan menapaki jalan setapak menuju sungai bergandengan tangan. Berlarian di padang rumput mengejar capung atau kupu-kupu. Jika musim durian tiba, pagi-pagi buta aku sudah teriak di halaman pondoknya mengajaknya mencari durian runtuh. Terbayang olehku gelak tawanya riang saat menemukan durian bergeletakan dibawah pohon. Aku akan membukakan durian untuknya. Dan dia akan menyuapiku dengan durian yang kadang separuhnya sudah dia makan. Aiih indah nian romantisme masa remaja kami. 

Pernah kami memetik buah jambu dan berlari ketakutan ke arah sungai  dikejar mbah Mugi yang marah karena jambunya kami lempari. Bersembunyi di balik batu- batu besar sampai mbah Mugi pergi. Sementara si mbah mengomel panjang pendek mencari kami, kami malah asyik main gunting dan batu sambil cekikikan.

Berbagai kenangan berlompat lompatan di kepalaku tentangnya. Mayla ku yang manis. Mayla mungil ku. Aku sering meledek mengatainya kakinya terlalu pendek hanya separuh kaki ku. Dia membalas dengan mengolok rambut keritingku.

Aku begitu nelangsa saat ia pergi tanpa pamit, saat aku tak pernah lagi menemukannya di bukit ini. Pondok kebunnya kosong. Dia tak pernah kembali. Tak pernah mengabariku. Kata Ibu orang tuanya juga tak pernah lagi terlihat di perkebunan. Kata penggarap kebun mereka pindah keluar kota.

Aku tertidur di kursi dengan kerang kenangan itu terdekap didada ku.

Tak terasa seminggu sudah aku tinggal di pondok dan meninggalkan semuanya. Semua. Kembali ke titik nol. Aku bahkan meninggalkan handphone yang kalau dulu bagiku lebih baik ketinggalan dompet di rumah daripada ketinggalan hp. 

Hidup tenang di alam yang masih lugu. Tanpa gadget, tanpa alat elektronik, tanpa sentuhan dunia modern. Kembali ke alam. Hidup sederhana tanpa pusing berpikir bisnis dan uang.

Setiap pagi bangun tidur menyalakan api di tungku, merebus air untuk menyedu kopi yang sudah masak setelah aku selesai sholat. Lalu ngopi di gazebo sambil menunggu matahari terbit. 

Lalu membuat sarapan dan mengelilingi perkebunan. Bertemu dan mengobrol dengan penggarap. Merapihkan pondok dan memulai rencana ke depan untuk  menerapkan konsep permakultur di perkebunan ini. Sebuah konsep desain lingkungan yang mengembangkan arsitektur berkelanjutan dan sistem pertanian swadaya berdasarkan ekosistem alam.

Konsep yang intinya adalah peduli bumi karena tanpa bumi yang sehat, manusia tidak bisa sejahtera. Peduli manusia agar seluruh manusia mendapatkan akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk hidup. Dan mengembalikan surplus input dan hasil pertanian ke sistem, termasuk mengembalikan limbah pertanian dengan daur ulang. 

Untuk langkah awal, aku menggantunglan papan di halaman pondok dengan tulisan merah dari getah daun jati : NO PLASTIC AREA

                                          *************

Rabu, 30 Maret 2016

GERHANA MATAHARI TOTAL, 09 MARET 2016

foto by Wiks Pitaloka
foto by wiks pitaloka

Sekali lagi mengalami peristiwa fenomena alam langka ini setelah berpuluh tahun silam. Kali ini Gerhana matahari total lintasannya meliputi Bangka Belitung daerah tempat ku tinggal. Merasa istimewa karena Indonesia adalah satu-satunya daerah lintasan dan hanya ada 11 daerah termasuk Bangka Tengah.
Jauh-jauh hari Pemda setempat sudah menyiapkan event untuk menyambut fenomena ini dengan mengadakan festival budaya dan rangkaian acara wisata memanfaatkan event ini untuk menyerap wisatawan. Festival akbar yang sukses bikin macet jalan utama di kota kecil kami.

Daerah pemantauan yang strategis yaitu di Desa Terentang letaknya di pinggir jalan raya utama yang menghubungkan Pangkalpinang - Koba - Toboali. Di pinggiran pantai yang cantik dengan taman bermainnya. Disanalah di pusatkan seluruh kegiatan festival Gerhana Matahari total diadakan. Mulai dari gelar budaya festival Dambus, lomba Kereta Surong, lomba mewarnai, permainan bola api, lomba gasing, gelar 3000 kue tradisional, dan lain-lain termasuk Sholat Gerhana dan tausyiah. Sudah bisa dipastikan heboh disana.
 
Kehebohan menyambut GMT juga terjadi di rumahku. Karena terbatasnya kacamata gerhana yang dibagikan gratis oleh Pemda seorang dokter spesialis mata di Rumah Sakit Bangka Tengah berinisiatif membuat alat bantu untuk melihat (bukan memantau) GMT dari kaca film 80% yang dilapis 12. Banyak yang minta dibuatkan dan belajar buat sendiri. Sayangnya permintaan baru banyak setelah H-1. Aku dan anak-anak di rumah juga buat dan dirikwes teman-teman. Duh pinggang sampai pegal duduk berlama-lama bikin kacamata gerhana. Alhamdulillah selesai walau tidak semua permintaan terpenuhi.

Karena waktu terjadinya GMT diperkirakan jam 06.21 dan area pemantauan diberlakukan penutupan jalan sementara maka banyak orang yang mau menyaksikan peristiwa itu brangkat ke lokasi pagi2 sekali. Bahkan sudah banyak yang menginap di lokasi. Ada yang jam 02.15 sudah mandi dan bersiap pergi..heheh..aku aja belum tidur mak. Pokoknya banyak yang antusias ingin menyaksikan langsung peristiwa ini.
Ada mirisnya juga sih..kok yang diutamakan lihat GMT nya bukan ibadahnya...ini khususnya buat yang muslim ya. Karena pemikiran itulah timbul rasa malu di dalam hati dan akhirnya aku yakin untuk tidak ikut2an berangkat ke lokasi pemantauan.
Detik-detik menjelang waktu yang diperkirakan, kampung ku terasa lengang...sepi...apalagi sederetan tempat kos ku. Ya sudahlah mungkin di masjid yang jaraknya cuma beberapa meter dari rumah sudah ramai. Tapi ternyata masih sepi. Waduh...apa semua pada ikutan mantau nih. Setelah beberapa kejap akhirnya rame juga yang datang.
Tepat seperti yang direncanakan, jam 6.30 sholat gerhana dilaksanakan. Dua rekaat dengan 4 rukuk 2 sujud. Lalu ditambah tausyiah sebentar. Alhamdulillah, selesai lah sudah ibadah sholat yang jarang dilaksanakan ini.
Pulang  ke rumah, langit cerah berawan sedikit. Ku kira GMT sudah selesai. Eh ternyata belum. 
Wahhh..Subhanallah...masih kebagian lihat fenomena alam langka ini. Pelan-pelan bayangan bulan menutupi sinar matahari menuju bumi. Lalu tertutup sempurna menyisakan semburat kilau lingkaran cantik. Cahaya redup..sedikit gelap yang aneh..suasana terasa hening...Allahuakbar..merinding rasanya saking takjub. Sekelumit rasa ngeri melintas di sanubari..ini salah satu tanda kiamat, apa jadinya kalau matahari tak kembali dengan sinarnya, lalu langit runtuh dan bumi gonjang-ganjing terbelah. Astaghfirullahaladziiim. Astaghfirullahaladziiim.... Untunglah kejadian itu hanya berlangsung 1,58 menit dan sinar mentari kembali terkuak dan jatuh ke bumi. Alhamdulillahirrobbilalamiinn.
Dan keadaan pun kembali berlangsung seperti biasa.
 
Nah, masih sempat lihat festival di Terentang. Naik motor sendirian. Jalanan ramai. Apalagi di kampung mendekati titik lokasi. Macet pake banget. Orang-orang yang parkir kendaraan di kampung harus jalan kaki sekurang-kurangnya 1km. Mana panas banget. Duh..pengunjung entah dari mana-mana nih. Bahkan ada yang dari luar negeri. Pokoknya itu pantai yang biasa hening dan lugu jadi bising dan sedikit genit...hmmm..
Kemacetan lalu lintas masih mewarnai acara-acara besar di kota kecil ini. Karena akses jalan pintasnya memang bisa dibilang tidak ada. Jadi jalau ada acara di satu titik yg dekat dengan jalan raya pasti deh pakai macet. Mudah-mudahan lain kali masalah macet ini jadi poin utama yg dimasukan dalam bahasan setiap akan mengadakan even besar.

 


Kembali ke..... medsos...hehe..Sudah bisa dipastikan status hari ini dibanjiri dengan all about total solar eclipse. Foto gerhana, selfie gerhana, laporan sholat gerhana...wayuuhh...
Ya biarlah. Emang medsos mah gitu tempatnya.
Pokoknya happy today, semoga hari ini dan hari esok penuh berkah. Aamiin.











Sabtu, 31 Oktober 2015

EDISI TUKANG BANGUNAN

Aku yang membangun benteng itu, saat itu aku sadar, suatu ketika ada masa aku trlempar keluar dan tak bisa melihat kedalam. Apakah aku menyesal? Tidak. Aku sudah memiliki kenangan pernah tinggal didalamnya dan itu cukup.

Jumat, 05 Desember 2014

MACET

Di benakmu itu Di sorot mata mu itu Di pandangan mu itu Di teriak mu itu Segenggam asa tentang entah Segumpal harap tentang entah Lalu tertegun Lalu terdiam Terjebak macetnya lalu lintas metropolitan Terhenyak oleh harga bbm yang melambung Bila bisa pulang bila bisa menghempas lelah Entah AM20141120