Rabu, 27 Desember 2017

BERPELUK HAMPA


Entah kenapa hari ini kopi jantan yang kuminum terasa hambar. Tak ada rasa asamnya yang khas di lidahku ketika kusesap Ia. Bahkan aroma wanginya tak tercium ketika asapnya mengepul dalam cangkir kopi ku saat aku menyeduhnya. 


Rasanya begitu kosong dan hambar. Tertawa pun terasa berat dan melelahkan. Dedaunan yang biasanya hijau berkilauan tertimpa sinar matahari rasanya begitu kusam. Daun kering yang bertebaran digugurkan pohonnya seolah merintih pilu tak berdaya dan tercampak.


Kurabai perutku yang berbunyi dan lambung yang sedikit perih. Aku lupa sudah makan apa hari ini. Aku nyaris tak mengingat apapun yang terjadi seharian tadi. Tahu-tahu hari sudah gelap dan aku merasa gamang.


Kupeluk hatiku yang berdenyut lemah dan basah oleh airmata. Sendirian terduduk di sudut gelap menyenandungkan lagu nina bobo. Aku menyuruhnya mengganti iramanya, tapi hatiku seolah tak mendengar. 


Kedekap erat tubuhku, kubenamkan wajah di lututku. Pelan kubelai rambutku yang mulai panjang dan masih hitam berkilau. Kubisikkan pada hatiku bahwa aku akan menjaganya dan membujuknya berhenti berharap orang lain sedia untuk menemaninya. Aku yang akan menemanimu, kataku.


Kuajak tubuhku berbaring. Kuletakkan perlahan kepalaku di bantal yang masih bisa kucium wangi tubuhnya. Kumiringkan tubuh mungilku ke kiri agar Ia bisa merasai lagi hangat tubuh dan detak jantung itu. Perlahan jemariku merabai tempat kosong disampingnya. Mengusap lembut, selembut gulir airmata yang tiba-tiba jatuh dari pelupuknya.


Kubiarkan airmata itu mengalir dan mengering sendiri. Kueratkan lagi pelukanku. Kembali kubelai rambutku dengan penuh rasa sayang. Kusentuhi bibirku dan memintanya tersenyum. Ayolah, senyum akan membuatmu merasa lebih ringan. Mari kita lepaskan belenggu kosong ini. Singkirkan kehampaan ini.


Kepalaku menggeleng lemah. Biarkan hampa ini membelengguku, bibirku berbisik. Lalu akupun membiarkan tubuhku menikmati kekosongan yang mulai terasa menyiksa. Kulepaskan dekapanku, kuhentikan belaian tangan di rambutku. Kubiarkan mereka tergeletak lemas di samping tubuhku. Kupejamkan mata, kuluruhkan tenaga. Lalu masuk ke dalam lingkaran gelap yang menghisapku semakin dalam dan dalam.


                       ________________


--
AMI MUSTAFA

MURRA, KEMUNING TAMPANKU


Kuhela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kutatapi kotak indah tempatku menyimpan benih yang dulu pernah sangat kuinginkan tumbuh di lahan subur milikku yang masih tak terjamah.


Benih yang kupikir akan bertumbuh subur dan berbunga indah dengan aroma wangi yang semerbak namun seiring waktu kusadari tak pernah bersedia atau tak yakin untuk bertumbuh di tamanku. Benih yang pada akhirnya kuputuskan untuk kusimpan saja meski tak pernah yakin akan bertumbuh kembali entah kapan nanti.


Kuusap kotak indah yang kusimpan dengan baik di rumah yang telah lama kutinggalkan. Ketika ini selesai kukemas manis dan cantik lalu kupastikan tersimpan aman dan nyaman, aku hampir tak pernah lagi menyentuhnya. Apalagi berniat lagi untuk menyemainya. Bahkan seringkali aku membuang muka ketika tak sengaja kulihat kilaunya setiap aku kembali pulang ke rumah ini. Bergegas menghalau keinginanku untuk memandanginya berlama-lama dan menghardik pikiran serakahku akan khayalan melihatnya berdaun hijau dan berbunga cantik dengan aroma semerbak bertahta di taman indahku yang selalu basah dan bermentari.


Perlahan kubuka kotak yang entah kenapa seolah tersenyum dan mengangguk padaku dan berkata, ini waktunya Mei..


Kulihat benih itu masih sama seperti dulu. Sepertinya waktu tak berkuasa merusaknya. Mungkin justru karna tak pernah kusentuh ia masih tetap dalam kondisi baik dan siap disemai kembali. Dengan ragu kukeluarkan Ia dari bungkusan indahnya. Sunggukah engkau akan bisa bertumbuh lagi setelah sekian lama? Sementara tamanku tak lagi permai seperti dulu?


Kubawa kotak benih itu ke halaman samping rumah tempat dulu aku punya sudut yang ku klaim sebagai taman milikku. Taman yang lama tak terawat meski tanahnya masih tetap subur. Seperti rimba mini dengan semak belukar dan duri. Tanaman yang tumbuh sendiri karena bentukan waktu dan cuaca. Gulma bebal yang serakah berebut tempat dengan aglonema merah yang pasrah mencoba berbagi tempat menyeruak diantaranya.


Dimana lagi akan kubenamkan benih ini ketika aku merasa Ia tak pantas ditanam di sembarang tempat. Haruskah Ia tumbuh di tempat yang tak lagi indah ini sementara dulu ketika tempat ini masih murni Ia tak pula sudi bertumbuh.


"Bumi memilihku untuk bertumbuh saat ini dan aku menyetujuinya apapun kondisi taman ini dan dimanapun kau benamkan aku" 


Aku terkesiap mendengar bisikan itu. Segera kubuka kotak kayu ditanganku. Benih itu tersenyum lembut. Aduhai... Alangkah manis dan indahnya senyum itu. Seluruh tubuhku bergetar karenanya.


"Benarkah? Apa itu engkau?" Aku bertanya terbata-bata tak percaya.


"Ini aku, Murraya Paniculata" jawabnya, "benih yang dulu pernah kau harap tumbuh di taman mu, tapi terlalu sombong untuk berani bersemi disana walau sangat ingin"


Aku tersenyum haru teringat harapan di masa lalu.   

 

               _______________


Beberapa hari setelah kutanam benih Murra dalam pot sederhana yang kuisi dengan campuran tanah, sekam dan pupuk kandang dengan komposisi 1 : 1 dan penyiraman normal serta sinar matahari yang tidak terlalu banyak, aku sudah bisa melihatnya tumbuh dan menyeruak dari tanah. Ya Tuhan, serasa takjub melihat benih yang sekian lama kusimpan ternyata masih bisa bertumbuh seperti itu. Tak habis-habis rasa takjubku terlebih Ia juga sangat cepat berbunga. 


Bunganya cantik berwarna putih berkelopak memanjang kecil berjumlah lima dengan mahkota tampan di tengahnya dan aromanya luar biasa wangi. Wangi yang lembut dan sangat mempesona seelok rupanya. Meski daunnya yang hijau tua belum terlalu banyak, Ia sudah berbunga dan menebar wanginya memelukku hampir disetiap waktu. Menghiburku, menemaniku tertawa bahkan menangis.


"Mei, terima kasih sudah mengijinkanku bersamamu" ucapnya setiap kali kami saling menceritakan ketakjuban kami atas kebersamaan ini.


"Aku yang berterima kasih padamu, Murra, karena telah bersedia melewati waktu yang begitu panjang bertahan dan tetap tumbuh menemaniku" balasku. Kadang saking gemasnya aku akan mengangkat potnya dan menciumi bunganya tanpa sadar itu menyakiti Murra. Aku baru akan tahu ketika Ia mengatakan itu membuat akarnya yang menembus ke tanah tercerabut dan kelopak bunganya nyaris berantakan. Atau kadang serbuk mahkotanya berguguran.


Jika itu terjadi aku merasa sangat menyesal. Sangat. Karena tak pernah ingin aku menyakitinya. Karena jika Ia merasa sakit aku juga akan tersakiti.


Murraya Paniculata atau Kemuning adalah sejenis tanaman  hias yang memiliki banyak khasiat untuk kesehatan. Selain bunganya yang indah dan wanginya yang harum baik untuk relaksasi, daunnya mengandung banyak kegunaan seperti obat memar, nyeri tukak, sakit gigi, rematik dan lain-lain.


Sejatinya Ia adalah tanaman yang cukup tangguh dan tidak terlalu membutuhkan perawatan atau perlakuan khusus. Bahkan cukup tangguh untuk menjadi bunga pagar. Tapi dari yang kukenal lebih dalam ternyata Murra-ku memiliki sisi lain yang lebih lembut dan sensitif. Dibalik sosoknya yang selalu riang terkadang Ia berubah cepat menjadi melow ketika aku salah memperlakukannya.


"Aku pernah menyentuh dengan tangan ini tanaman yang beracun atau tanaman dengan wangi yang berbeda, Murra" kataku suatu kali saat sekali lagi aku mencederainya hingga Ia terkulai layu dan daunnya berguguran.


"Aku khawatir racun atau sari bunga yang tertinggal di tangan ini akan menyakitimu. Begitu khawatirnya hingga ingin rasanya kupotong saja tanganku agar tak lagi menyentuhmu" ujarku lirih tak berdaya.


"Jangan, Mei" tukas Murra "tetaplah seperti biasanya, hanya beri saja aku waktu untuk memulihkan diri" katanya menunduk sambil menekap wajahnya.


Beberapa kali hal seperti itu terjadi bahkan kadang hanya beberapa kejap setelah sebelumnya Murra berkata akan menjadi tangguh agar bisa menjagaku dan menemaniku. Seringkali pula aku tak tahan melihatnya lalu berbalik sedih dan pergi meninggalkannya, berhenti menyentuhnya namun aku selalu punya alasan untuk kembali.


Aku menangis jika bunganya gugur berantakan keesokan pagi ketika malamnya aku memaksanya mengeluarkan wangi agar ruang mimpiku terasa segar.


"Betapapun bungaku harus berguguran berkali-kali karenamu, aku akan kembali berbunga dan terus bertumbuh besar, Mei.


Aku telah melewati waktu panjang dengan harapan bisa berbunga untukmu, bisa bersamamu dan setelah itu terjadi, tak mudah bagiku untuk layu dan mati"


                   ______________


Musim panas yang terik bulan Juni sudah berlalu. Meski matahari masih terus garang pada bulan bulan berikutnya. Murra sudah semakin rimbun dan bunganya bertambah banyak bergerumbul setiap kali tiba saat berbunga. Semakin Ia mengenalku, semakin biasa dengan sentuhan tanganku yang terkadang kasar menyakitkan. Ketika tiba saat aku harus memangkas rantingnya yang meliar atau mengganti pot nya agar Ia lebih leluasa bertumbuh, Ia akan bertahan meski terlebih dulu melayu atau merana dan merasa sengsara.


"Aku akan bertahan Mei" kata Murra setiap kali aku merasa bersalah dan takut untuk terus merawatnya.


"Aku merasa tak bisa melakukan banyak hal baik untukmu. Yang bisa kulakukan hanyalah bertahan terus bertumbuh dan berbunga agar bisa membuatmu bahagia. Hanya itu Mei yang bisa kulakukan untukmu saat ini"


Aku terharu,

"Cukup Murra, yang kau lakukan itu sudah lebih dari cukup, kau bertumbuh saja setelah sekian lama sudah membuatku bahagia, hadirmu setiap saat dan berbunga sesering kau bisa menghiasi tamanku sudah membuatku sangat bahagia. Kau sungguh berarti buatku, Murra".


                 _______________


"Kebersamaaan ini sangat indah dan istimewa kan, Mei" katanya saat kami bercakap-cakap menunggu senja tiba.


"Tentu, Murra. Aku masih tak bisa berhenti merasa takjub bisa bersamamu"


Murra tergelak. Tawanya sangat renyah dan aku sangat menikmati tawa itu. Daunnya berguncang lembut dan bunganya bergoyang seksi. Angin sore yang sedikit kencang membuat mahkota bunganya menyentuh hidungku dan aku bersin sangat keras karenanya. Tak sengaja lututku menyenggol pinggiran rak tempat aku meletakkan Murra dan tak ayal pot nya terjatuh terjun bebas terhempas. Tanahnya berantakan, Murra tergeletak dengan akarnya telanjang tercerabut.


Sambil menangis segera kubenahi tanah yang berserakan dan Murra yang tak berdaya. Kukembalikan ke tempatnya semula dan kupandangi dengan teriris.


"Murraaaa...kenapa aku selalu jadi bencana buatmu" bisikku lirih dan gemetar. Kau baik-baik saja sebelum aku mengeluarkan mu dari kotak indah itu, berbaring nyaman tersimpan dengan elok. Tapi lihat sekarang yang aku lakukan padamu. 


Aku tak tahu butuh berapa lama Murra memulihkan dirinya. Aku tau Ia tak pernah menyesal telah memintaku menyemaikan benihnya hingga Ia bertumbuh dan berbunga. Aku juga tau, meski Ia layu dan tak ada lagi kelopak bermahkota dengan aroma wangi semerbak,  rasa sayang yang sekian lama dipertahankannya tak kan hilang seketika.


Dari balik jendela kaca bertirai deraian air hujan, kupandangi Murra yang berjuang bertahan dari terpaan angin dan dan derasnya hujan. Bertahanlah, Murra. Jikapun aku hanya boleh memandangimu dari balik kaca atau dari tempat yang jauh, tak apa, asalkan kau bertahan. Dan tetaplah indah. Tetaplah wangi meski hanya bisa kucium jika angin menyampaikannya padaku.


Berbahagialah Kemuning kesayanganku, karena aku bahagia jika kau bahagia.


          *************************




--
AMI MUSTAFA

CINTA TAK SALAH


Cinta tak pernah benar-benar tumbuh dimana saja. Tak pula bisa bertahan tetap sama dari waktu ke waktu. Tak selalu tumbuh kapan saja.


Cinta memilih waktunya sendiri untuk bertumbuh dan berkembang. Memilih kapan dia bertahan atau berpaling pergi. Memilih tetap konstan atau dinamis.


Bisa saja dalam hitungan kejap tunasnya bermunculan dan kuncup bermekaran. Lalu sedikit terhembus angin seketika daunnya kering berguguran.


Bisa pula sepotong benih yang tersimpan lama baru bertumbuh dan berbunga sangat lambat berwarna pucat dengan wangi samar bertahan gigih dari hujan, angin dan terik matahari.


Ketika cinta yang memeluk dan mendekapmu hangat tiba-tiba mengeluarkan duri sebagai bentuk pertahanan dirinya, maka luruhlah engkau


Ketika cinta yang menggenggam erat jemarimu tiba-tiba menegang panas tinggi sekali, maka hanguslah engkau terbakar dan menjadi abu


Cinta tak pernah salah, Ia memilih waktu dan tempat yang tepat. Engkau saja yang seringkali keliru mengenali wajahnya, membaui wanginya


Cinta selalu memilih nada-nada yang indah untuk didentingkan. Memilih syair-syair yang manis untuk disenandungkan. Telingamu saja yang terkadang salah mendengarnya, lalu memilih tarian yang salah


Kapanpun waktu yang dipilih cinta dan dimanapun dia memutuskan menetap, wajahnya selalu sama, irama dan syairnya sama, indah. Jika tak indah maka itu bukan Ia.

                         *********


--
AMI MUSTAFA

Sabtu, 23 Desember 2017

AKU MARAH

Dikecewakan oleh orang yang kamu anggap paling gak mungkin akan menyakitimu? Atau dikhianati oleh orang yang kamu percaya wan handret persen?

Waw!!!
Rasanya seperti tamparan ribuan kuku macan d wajahmu. Lalu hatimu terlecut.  Rasanya seperti bahan bakar yang dipantik api. Bhuummmm!!!! Tiba-tiba ada kobaran nyala api d belakang kepala. Wajah memerah dan rasanya seperti jadi raksasa yang siap menelan siapa saja dan apa saja.

Lalu karena situasi dan kondisi tidak memungkinkan, kamu mencoba bertahan, meredam kemarahanmu serapih mungkin. Aduh mak!!! Itu rasanya seperti kamu seekor harimau yang diam dengan wajah datar tapi kuku-kuku tajamnya bermunculan berkilat siap mencabik.

Ya Tuhan.
Aku sih merasa sengsara dengan situasi itu. Kalau kamu?

Tapi bukan bagaimana perasaanku yang ingin kalian tahukan? Tentu saja kalian lebih tertarik ingin tahu apa yang terjadi. Mencari sepotong nama dan sepenggal kisah.

No!!!
Aku memutuskan untuk tidak menceritakan apapun hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu kalian. Kalian cuma ingin tahu, bukan perduli kan? So, kenapa harus kuberitahu? Ore ye, hehe.

Yang ingin kuceritakan hanya bagaimana aku berusaha keras untuk tidak meledakkan kemarahan. Tidak membalas menyakiti walau aku punya banyak senjata yang pernah diberikan untuk balas menyakitinya. Aku akan bertahan memegang pedang itu meski sampai tanganku berdarah darah.

Karena kemarahan pada akhirnya hanya akan menghasilkan rasa malu, aku memilih diam.

Teman yang memilih menusukku bukanlah temanku. Lalu kenapa kalau aku hilangkan saja. Lupakan. Dan memilih berbahagia.

Sudah itu saja. Aku saat ini ingin diam duduk manis membahagiakan hati dengan caraku sendiri.


*********

Selasa, 28 November 2017

HUJAN DAN KAMU

Hujan deras sekali di luar sana. Aku suka hujan. Hujan membuat ingatan ku melayang pada mu. Tapi aku tidak suka bunyi gunturnya. Gemuruhnya membuat bayangan mu menjadi buyar. Kutatap titik-titik air yang jatuh dari langit. Menghunjam ke tanah membuat partikel debu terhempas. Kupandangi sekeliling yang basah. Bagaimana nasib burung-burung kecil yang tadi pagi riang berkicau? Mereka akan basah dan kedinginan.

Bagaimana nasib semut-semut yang tadi rapih berbaris mengumpulkan remah-remah sisa makan ku. Apakah sekarang mereka sedang berkumpul ketakutan di lubang mereka yang hampir dicapai air? Sementara aku disini dalam ruang kering dan hangat ditemani musik klasik lembut yang romantis dan secangkir teh panas. Aku mengaku menderita karena kehilangan mu. Betapa tidak bersyukurnya aku.

Padahal itu pun bohong. Aku bohong jika kukatakan aku kehilangan mu. Aku tak pernah kehilangan mu. Bagaimana bisa jika aku terus menyimpan segala sesuatu tentang mu dalam hati dan pikiran ku. Mengingatmu membuat hati ku bersuara. Hiburan yang menyenangkan buat ku saat ini adalah bayangan mu tersenyum padaku. Saat ini. Entah esok.

Ku pejamkan mata. Ku dengarkan irama suara hujan. Lalu suara mu. Indah. Hidup jadi indah. Jadi tak perlu merasa menderita bukan? Dan ini benar. Tidak bohong. Tanya saja pada semut yang sedang berkumpul di lubangnya sambil bergosip.

************

Rabu, 14 Juni 2017

SALAH KADO

#30HariMenulis - Day 14

"Dua hari lagi ulang tahun mama, ayo lah kak, bantu aku beli kado" rengek Yaya pada kakaknya.

"Mau beli kado apa dek?" tanya Lala.

"Aku mau beli dompet hp. Punya mama sudah mengelupas kulitnya" jawab Yaya.

"Baiklah, nanti kakak kasih uangnya. Kamu beli lah dan bungkus yang rapi"

Yaya melonjak gembira. Walau tidak ada perayaan dia selalu senang memberikan kado setiap kali Mama ulang tahun. Kado nya tidak harus mahal kadang hanya sebatang coklat pun jadilah.

Malam itu Lea sibuk mengutak-atik hp nya. Sepertinya ada yang salah. Hp yang biasa dipakainya tiba-tiba tidak bisa hidup. Sudah dicoba restart masih saja tidak berfungsi seperti biasanya. Karena tidak juga berhasil memperbaikinya Lea memutuskan untuk membawanya ke konter besok untuk diperiksa.

Pagi-pagi sekali Yaya sudah minta diantar ke sekolah. Dan berpesan untuk tidak dijemput. Masih setengah mengantuk Lea bangkit dari tempat tidur. Cuci muka dan mengantar anaknya sekolah. Tak lupa dibawanya hp untuk diperbaiki.

"Wah, bu..ini yang kena mmc nya." ujar petugas konter setelah memeriksa hp Lea.

"Berapa tuh biaya dandannya" tanya Lea cemas. Dia tidak siap kalau harus tanpa hp hari ini. 

"Kira-kira Rp.400.000" jawab petugas.

"Wah..kalau segitu rasanya saya tunda dulu deh" Lea membawa pulang hpnya dengan sedih. Dirumah dicopotnya batre hp dan menyimpannya hpnya baik-baik.

Pagi itu dihabiskannya dengan membersihkan rumah dan pekarangan. Menyiapkan makan siang untuk Yaya yang mungkin hari ini akan pulang cepat karena sudah selesai ulangan.

Lea pergi ke kebun belakang yang teduh. Membersihkan rumput dan daun-daun kering berserakan. Mengikatkan tali hammocknya di dua pohon yang berdekatan. Lalu berbaring disana dengan nyaman sambil menunggu Yaya pulang.

"Assalamualaikum..." teriak Yaya dari pintu gerbang.

"Waalaikumsalam.." jawab Lea. Dihampirinya anaknya. Seperti biasa ritual cium tangan, pipi kanan, pipi kiri lalu, cuppp..bibir mungil Yaya yang lucu di kecupnya.

"Gimana ulangannya, Ya?'
" Aman mah, bisa semua" jawab Yaya berbinar riang mata bulatnya.

Lea mengacak rambutnya pelan. 

"Baguslah..anak baiik" katanya sambil mencuil pipi Yaya. "Mama baring di kebun belakang ya sebentar, kalau kamu sudah lapar kita bisa makan sekarang"

"Nanti aja ya mah" jawab Yaya. Lalu pergi ke kamarnya.

Lea kembali berbaring di hammocknya. Angin sejuk yang bertiup membuatnya mengantuk. Tak terasa matanya terpejam.

Sayup-sayup di dengarnya lagu ulang tahun dinyanyikan. Dibukanya mata pelan. Dilihatnya Yaya meletakkan sesuatu di meja kayu tak jauh darinya dan bergegas pergi. Dilihatnya secangkir kopi mengepul. Dia tersenyum, dihampirinya meja. Dilihatnya ada sebuah bungkusan kado.

"Hehe..Yaya anak maniiis. Selalu begitu setiap tahun, Memberinya kado ulang tahun dan kejutan.

Dibukanya kertas yang membungkus kado. Dan tersenyum miris. Sebuah dompet hp yang khusus untuk type hp miliknya berwarna marun.

" Selamat ulang tahun mamaaah" teriak Yaya dari belakang. Dipeluknya Lea dengan hangat.

"Makasih ya Yaya sayang" ucap Lea. Dikecupnya kening Yaya.

"Pake ya mah" pinta Yaya. "Mana hp mama?"

"Nanti ya pakenya, sekarang hpnya lagi tidur panjang" jelas Lea. Wajah Yaya langsung berubah kecewa. Lea tertawa. Dipeluknya Yaya sekali lagi.

"Nanti dipake buat menyimpan hp yah" hibur Lea

"Yaahhh...salah kado aku" ujar Yaya seraya menepuk jidat.

           ***************




Selasa, 13 Juni 2017

ANAK-ANAK MUDIK

#30HariMenulis - Day 13

Hari ini aku bener-bener punya alasan untuk nggak menulis. Bukan malas sih, tapi waktu ku banyak terpakai untuk melepas rindu, mengobrol dan bercengkrama.

Anak-anak pulang dari rantau. Setelah sekian lama tak bersama karena mereka kuliah di luar kota. Jadi ceritanya mudik lah gitu. Mudik lebih awal untuk menyiasati kenaikan tarif angkutan dan ramainya arus mudik. Untungnya mereka juga sudah mulai libur setelah selesai UAS.

Menanti anak-anak pulang dari rantau itu seperti menanti ibu yang pulang dari belanja di pasar. Sensasinya gimanaa gitu. Mereka masih belasan kilometer dari rumah saja pintu gerbang sudah dibuka lebar-lebar. Selebar dua tangan terbentang saat mereka muncul di depan pintu.

Suasana jumpa di saat menjelang Lebaran memang luar biasa. Bayi-bayi mungilku dulu yang kini sudah menjelma jadi gadis-gadis cantik menempuh ribuan kilometer untuk sampai ke pelukan ibu. Warbiyasahhh.

Keadaan rumah langsung berubah begitu mereka tiba. Rasa kayak ada taman bunga dengan bunga-bunga bermekaran gitu. Makan sahur juga jadi lebih bersemangat. Apalagi pas bangun sahur sudah ada makanan di meja hasil kerja anak gadis. Uiiyy..enaknyee.

Pagi-pagi rumah sudah rapi, bersih dan terasa sentuhan remajanya. Enak ya. Mudah-mudahan nanti saat mereka harus kembali ke kampus aku jadi gak manja dan terbiasa kembali merawat rumah sendiri.

Saat berbuka puasa juga jadi meriah. Lagi-lagi disiapkan oleh anak-anak. Sambil makan sambil berkisah dan bercengkrama. Padahal kan makan gak baik ya sambil ngobrol. Hehe..

Sudah dulu ah, mau buat list kunjungan dulu untuk anak-anak. Kan banyak keluarga yang harus dikunjungi untuk menjaga tali silaturahmi. Maklum karena jauh mereka jarang pulang kampung. Jadi saat mudik harus dimanfaatkan dengan baik.

                    ***************