Senin, 12 Juni 2017

PENDEKAR MALU HATI

#30HariMenulis - Day 12

Aku dapat tugas bikin trek sepeda untuk acara gowes bersama klub-klub sepeda di kotaku. Sudah ada lima belas klub yang mendaftarkan anggotanya untuk ikutan acara ini. Perkiraan akan ada dua ratusan pesepeda yang hadir. 

Sebenarnya aku meracik trek ini tidak sendiri, tapi ada berapa teman yang kemarin sudah ikut survey dan menentukan lokasi. Berhubung mereka berhalangan ikut untuk memasang safety line sebagai penanda lintasan sepeda jadilah hari ini aku bekerja sendirian. Gak masalah, aku sudah biasa membuat trek di klub lari ku, walau sedikit berbeda dengan trek sepeda setidaknya ada mirip-mirip lah. Yang sama itu ya sama-sama di alam terbuka.

Supaya lebih cepat bergerak aku tidak pakai sepeda. Lagian trek ini berjarak total 30km, capek kan kalau pakai sepeda. Dengan ransel di pundak berisi airminum dan safety line aku berangkat menyusuri jalan-jalan yang kemarin sudah kami tentukan.

Rencananya titik kumpul akan ditetapkan di kantor Polres karena yang punya hajat Pak Kapolresnya. Setelah itu keluar menuju bypass dan berbelok ke arah Desa Kulur sekitar 2km. Kemudian berbelok masuk ke jalan setapak perkebunan sawit. Menuju area pertambangan timah. 

Beberapa penambang menatap curiga melihatku berkeliaran, dibeberapa titik memasang garis-garis polisi berwarna kuning hitam dan hitam putih yang membuat mereka rada ngeri juga. Khawatir karena penambangan yang mereka lakukan termasuk kategori ilegal, dan polisi jadi sosok yang meresahkan buat mereka.

Seorang penambang menghampiri ku dengan wajah tidak bersahabat. Apalagi sempat dilihatnya aku mengambil beberapa foto pemandangan kolong (kolam air bekas galian tambang) yang airnya berwarna kebiruan dan sangat cantik.

"Ada apa ini pakai-pakai ditandai garis polisi?" tanyanya.

Aku tersenyum tenang. Bapak itu mengamati ku dari ujung kepala sampai kaki. Memandang gagang golok yang menyembul di ransel di pundak ku dan menilik motor ku. Agaknya dia sedikit kaget menyadari ternyata aku wanitahh. 

"Permisi,Yak.. ku tengah masang tanda untuk trek sepeda" jelasku. Ayak adalah panggilan untuk abang dalam bahasa lokal.

"Oooh...trek sepeda... kire ku ade ape. Ade lomba sepeda rupe e" katanya lega.

"Ukan lomba, Yak..hanya gowes bersama kek kawan-kawan seluruh klub sepeda di Bangka ni," kataku meralat kata-katanya. Mungkin dikiranya akan ada perlombaan jika sudah pakai pasang garis polisi begini.

Setelah bercakap-cakap sejenak aku pamit melanjutkan pekerjaan.

Lepas dari area pertambangan aku memasuki perkebunan karet dan lada. Melalu jalan menanjak dan menurun hanya selebar tidak lebih dari satu setengah meter. Aku mesti konsentrasi mengendalikan motor kalau tidak ingin terjatuh. Belum lagi harus memastikan tanda di pasang cukup rapat agar bisa diikuti peserta gowes dan meminimalisir goweser yang nyasar. Dan setiap tikungan dan jalan bercabang wajib di beri penanda yang lebih panjang.

Sedang tegang-tegangnya berkonsentrasi mengendalikan motor dan sudah merasa cukup lelah tiba-tiba aku mendengar hiruk pikuk dari arah depanku. Agak jauh. Aku menerka-nerka apa gerangan kehebohan itu.

Memasuki area berpasir motor makin sulit dikendalikan. Pelan-pelan aku makin dekat ke arah sumber suara. Apa tuh, kok seperti ada jerit-jeritan ketakutan lalu kembali tidak jelas..begitu beberapa kali.

Wah, karena tempat itu sepi, agak masuk ke area hutan jauh dari perkebunan penduduk aku jadi was-was juga, jangan-jangan itu tindak kejahatan.  Lalu suara seperti orang yang dilemparkan ke air di iringi jeritan dan tawa yang ku bayangkan itu yang tertawa pasti sambil menyeringai.

Rada takut juga sebenarnya mau mendatangi sumber suara. Tapi jiwa pendekar dalam diri ku ini, ciee..cieee pendekar..hahak... rasanya tidak tega mengabaikan begitu saja tindak kejahatan terjadi tanpa berbuat sesuatu.

Ku parkirkan motor agak jauh dari lokasi yang terdengar ramai itu. Karena jalannya menanjak dan berpasir. Setengah berlari aku mendekat. Golok ku keluarkan dari ransel. Sempat ku siapkan nomor telpon Pak Kapolres yang aku yakin selalu standby, siapa tau aku butuh bantuan mendadak jadi beliau bisa perintahkan anak buahnya mengirim bantuan.

Begitu sekali lagi ada teriakan, aku langsung merangsek masuk ke arena, eh maksudnya menyibak semak belukar yang menutupi tekape. Benar saja, seorang pemuda kurus hitam dekil hanya mengenakan celana dalam sedang meronta dipegangi tiga orang lelaki yang tubuhnya lebih besar. 

"Hei!!!..." aku membentak mereka. Tapi pemuda kurus itu sudah terlanjur terlempar ke kolong. Dan lelaki yang melemparkannya terkejut menoleh ke arahku. Memandangi ku penuh tanda tanya.Tapi aku tak kurang terkejutnya memandang sekeliling.

Beberapa sepeda bergeletakan. Ada beberapa orang lagi disana. Ada yang sedang berbaring santai di rerumputan, ada yang sedang makan, mengobrol, mencuci sepeda. Semuanya hanya pakai sempak, celana dalam, bertelanjang dada. Malah ada satu orang sedang mandi membelakangi ku, tanpa sehelai benang pun. Dan mereka semua serentak menoleh kearahku heran dan kaget karena bentakan ku.

Aku langsung menyadari apa yang terjadi, tergagap dan minta maaf. Lalu buru-buru kabur dengan wajah merah padam karena jengah dan malu diiringi pandangan heran mereka.

*********************
 



    

Sabtu, 10 Juni 2017

ANDAI LEBAY

#30HariMenulis - Day 10

(Tema : Andaikan kamu ALADDIN yang menemukan lampu ajaib dan bertemu dengan Jin baik yang akan memberimu 3 PERMINTAAN, permintaan apa yang kamu inginkan?)


Duh, bakal menggali keserakahan dalam diriku nih. Hihii..gak apalah, mumpung ada yang nawarin. Aiih, enak amat yah andaikan bukan berandai-andai.

Yang pertama aku pengen minta doraemon sama kantong ajaibnya. Kok gak kantong doraemon aja? Enggak ah, pengen sepaket ama doraemon. Biar ada yang menemani main, mengiburku saat aku sedih, mendengarkan ku saat aku pengen ngomel, kasih aku solusi saat aku kena masalah.

Mau butuh apa-apa tinggal cari di kantong doraemon. Apalagi aku suka banget tuh sama baling-baling bambunya. Bisa kemana-mana gak capek, gak berat di ongkos, bisa sambil liat pemandangan alam dari atas lagi. Aku pengen banget main paralayang tapi belum pernah kesampain. Dengan baling-baling bambu rasanya mungkin rada-rada mirip yah.

Yang kedua aku pengen minta jadi diriku sendiri, bukan jadi Aladin. Kan gak enak masa aku cuma pake rompi ama celana gombrang berserut itu melulu. Aku kan pengen juga pake jersey, pake baju senam, celana kargo, dan aku gak suka naek permadani, pengennya pake sepeda mtb kayak patrol idamanku ato minimal kayak Yayank Omay ku deh.

Yang ketiga aku pengen minta andai-andai ini jadi nyata. Udah itu aja lah. Percuma juga minta ini minta itu kalo cuma andai. Nyebelin tau.

Padahal berandai-andai itu enak-enak gimanaaa gitu. Tapi udahnya pahit-pahit gimanaaa gitu. Mendingan juga ngopi, sederhana tapi nyata.

Yuk ngopi yuuk...biar rasa ada kamu gitu, biar inget D
Ahhayyyy..


                 **********************




Jumat, 09 Juni 2017

TULIS AJA JANGAN KEBANYAKAN BENGONG

#30HariMenulis - Day 9

Sudah sore dan aku belum menulis untuk hari ini. Bukan belum sih sebenarnya. Belum selesai. Keburu ilang mood karena sesuatu dan lain hal.

Pengennya sih nerusin kisah Mayla kemaren, kali ini kembali ke sudut pandang tokoh utama, Ardy (Turning Point). Kemaren kurasa bagian ini akan lebih mudah, seluruh ceritanya udah ada di kepala. Tapi ya gitu deh, nyusunnya dan numpahinnya ke dalam tulisan itu gak mudah buat ku. Hahahhh..dasar amatir.

Abis baca tulisannya si 'Rangga' bukannya tambah termotivasi nulis malah bikin drop. Kok tulisannya bagus gitu, enak gitu bacanya. Sedangkan tulisan ku..hadeh, payah. Nah, ini nih penyakit penulis amatiran. Suka takut tulisannya jelek. Padahal aku tau banget, klo mau nulis tuh tulis aja, jangan kebanyakan mikir negatif. Justru kalo baca tulisan orang laen bagus ya mesti lebih belajar dari sana, lebih termotivasi lagi buat ngbagusin tulisan. Tapiiii...ya gitu, aku mah omong doank, prakteknya susssyaaah.

Tapi bukan itu lho yang bikin aku ilang mood buat lanjutin kisah Ardy. Asli hanya karena tiba-tiba ilang mood. Bukannya dicari moodnya malah aku tidur siang dan bermimpi buruk. Nah lo rasain dah. Bangun tidur kirain jadi fresh malah tambah malas nulis.

Rasanya pengen matiin hp beberapa hari. Padahal aku nulis cuma ngandelin hp. Biarlah rasanya aku gak akan nulis buat hari ini dan beberapa hari ke depan. Pelan, kutekan tombol off. Triiiinggg..nada off smartphone ku bunyi. Proses sebentar, lalu layar gelap. Sudah. Hp off total.

Duduk santai di dapur. Bengong. Beresin dapur bentar. Duduk lagi, bengong lagi. Terus mikir, ini dia salah satu tantangan #30hariMenulis itu. Ngalahin rasa malas, berjuang untuk konsisten menulis 30 hari berturut-turut. 

Kali ini enak, tema gak ditentukan sama admin. Jadi lebih bebas mau nulis tentang apa aja. Banyak pesertanya yang sibuk dengan pekerjaan tapi masih berusaha menyelesaikan tugas nulis. Masa aku yang punya lebih banyak waktu luang gak mau berusaha. 

Akhirnya kuhidupkan lagi hp dan mulai menulis. Masih bingung mau nulis apa. Masih gak mood nerusin kisah Ardy. Tapi harus nulis. Jadi mau nulis apa??? Bengong lagi jadinya. Ah, Amoy, kebanyakan bengong lo!

Udahlah ngopi aja, kebetulan lagi gak puasa..hihi. 

                     ************************

Kamis, 08 Juni 2017

MAYLA, A SAD LONELY LIL GIRL INSIDE



#30HariMenulis - Day 8

Aku lagi melow, aku lagi sedih, kecewa, terluka, gak berdaya. Rasanya pengen nangis meraung-raung kayak srigala ketusuk duri sawit yang berbisa. Tapi gak bisa, aku kan manusia bukan srigala. Lagian aku terlalu manis untuk berlaku seperti itu.

Hati ku sakit, jiwa ku terluka, rasanya nyesek di dada, cenat-cenut di hati. Pengen curhat, pengen nangis di pangkuan seseorang. Tapi gak bisa. Kalau ketemu orang aku suka gak tahan pasti senyum atau diam tanpa ekspresi.

Rasanya pengen ngebut bawa motor. Gas abis sampe kecepatan paling tinggi di aspal item yang mulus, trus belokin sedikit stangnya mendadak, kejungkal dan braaaaaakkkkk!! Ngglosor diaspal, bedarah-darah, mati! Aduh, astaghfirullahaladziem...jangan donk!! Ntar gak ikutan lebaran. Lagian aku gak bisa bawa motor.

Jadi gimana donk?? Akhirnya aku cuma bisa duduk bengong di pojokan ranjang. Memeluk lutut, menatap kosong. Sendirian. Lemas. Perut kosong, bibir sama tenggorokan kering, soalnya lagi puasa.

Tuitt-tuiiiit...tuitt-tuiiiit.... Bunyi nada pesan, itu khusus nada dering yang ku setting buat Ardy. Aku sempat ngirain itu bunyi perut ku yang melilit keroncongan. Aku diem aja. Masih dengan pikiran dan tatapan kosong. Perut ku juga dink, kosong.

 *
***

Beberapa hari yang lalu secara gak sengaja aku ketemu dia. Aku sama perawat lagi di pasar cari mangga. Ada yang lagi motoin aku dari samping. Ih ya tu orang gak sopan, moto gak pake ijin. Dia kira bagus kali ya objek foto perempuan diatas kursi roda berkeliaran di pasar.

Pas aku noleh, dia nurunin kamera yang nutupin wajahnya. Mukanya terpana. Aku juga kaget banget. Lelaki tinggi yang kokoh itu, menghampiri ku dengan wajah bengongnya.

Makin dekat aku makin yakin itu siapa. Wajahnya keliatan jelas kaget campur gembira.

"Mayla?...Maylaaa?? Ini kamu Mae?" katanya setengah gak percaya.

Dia bersimpuh di kursi roda ku, memegang tangan ku, natap mata ku penuh rasa kangen. Aku diam aja. Wajah ku datar aja, tatapan ku juga kosong rasanya.

Tiba-tiba pasar yang rame itu terasa sepi dan mati. Rasanya cuma ada kami berdua. Perasaan ku campur aduk. Yang pasti dominan, aku ngrasa seneng, bahagia, ketemu sahabat kanak-kanak ku yang dulu tumbuh bersama. Yang dulu selalu jagain, ngelindungin, nyayangin dan menghibur ku.

Tapi aku udah terbiasa gak bisa ngungkapin perasaan. Aku selalu punya kesulitan nunjukin perasaan ku.

Aku masih diam aja saat Ardy ngambil alih kursi roda ku dari perawat. Mendorong pelan-pelan nganterin ku pulang kerumah.

Sampe rumah Ardy menggendong ku ke sofa jati ruang tamu. Aku nurut aja dengan lemah nyandarin kepala di dadanya. Duh, nyamannya. Ini Ardy-ku dulu, temen masa kanak-kanak dan kekasih saat remaja. Perawat ngambil alih kursi roda ku dan masuk ke dalam ninggalin kami berdua.

Di sofa itu Ardy gak langsung meletakkan ku tapi dia duduk sambil mangku memeluk tubuh ku yang terasa mungil dalam dekapannya. Diciuminya rambut ku sambil nangis terisak-isak. Aku masih diam aja. Tapi ada airmata ngalir di pipi ku. 

"Apa yang sudah terjadi sama kamu, Mae?..Ada apa? Kemana aja kamu selama ini ngilang tanpa berita?" tanyanya lembuuut banget sambil nangis. Pertanyaan yang gak menuntut jawaban. Persis seperti dulu saat aku hilang di perkebunan dan ditemukan dalam keadaan shock tanpa ekspresi.

Aku diam aja, sembunyiin wajah di dadanya. Dia dekap kepala ku. Dieratinnya pelukannya. Dia nangis, aku nangis, kami nangis bareng sampe capek.

Akhirnya diletakkannya aku berbaring di sofa. Dia bersimpuh di samping ku. Merapihkan rambut ku dan mengusapnya penuh kasih sayang. Aku nangis lagi terharu. Digenggamnya tangan ku, seolah mau ngeyakinkan semuanya akan baik-baik aja. Lagi-lagi persis sama seperti waktu itu. Dejavu.

Ardy bangkit ke belakang. Ngambil air hangat dan nyodorin ke aku sambil bantu aku bangkit untuk minum.

Lalu pergi ke belakang, sepertinya ngobrol sama perawat. Lama. Pas dia kembali langsung pamitan untuk pulang ke pondoknya di perkebunan.

Sejak hari itu kami jadi sering kontak. Kata Ardy, dia baru beberapa bulan kembali dari rantau. Menjauh dari kehidupan dunia modern, mengasingkan diri di perkebunan. Bahkan katanya dia baru beli hp setelah ketemu sama aku lagi. Soalnya jarak dari kampung ke perkebunan agak jauh dan dia jarang turun ke kampung. Dia melanggar konsep hidup barunya demi aku, pake hp.  Pelanggaran kedua setelah dia mulai lagi pakai kamera.

Banyak yang dia ceritain ke aku. Tentang konsep permakultur yang sedang dia terapkan di perkebunan. Tentang kegiatan edukasi penduduk dan kebiasaan larinya. Tentang khayalan-khayalannya ke depan. Dan tentang harapannya akan hubungan kami.

Aku juga sempat cerita tentang hidup ku. Keluarga ku yang berantakan gara-gara suami selingkuh dan memilih menikahi sekretarisnya. Tentang kenapa dulu aku pergi ninggalin dia tanpa pamit. Dan tentang kenapa akhirnya aku harus pake kursi roda.

Ketika sampai ke pertanyaan, apa aku pernah selama ini ngehayalin dia seperti dia ngehidupin aku dalam khayalannya, kujawab jujur, enggak. Karena merasa bersalah dan gak pantas buat dia, aku memilih menyimpannya rapih di ruang terindah hati ku dan setengah mati berusaha ku lupain, meski gagal. Bagiku, dia dan kenangan indah tentangnya terlalu sakral untuk ku utak-atik dalam sebuah khayalan. Dia kecewa, terluka dan gak terima atas jawaban ku. Baginya sungguh gak adil sementara dia selalu memikirkan ku tapi aku malah nglupain dia. Sementara dia menanam dan memupuk rasanya pada ku, membiarkannya terus tumbuh dan berbunga, aku malah mengubur dan membekukannya. Dia menyalahkan ku berulang-ulang.

Aku ketakutan liat reaksinya. Dia bilang kalau dia sayang banget sama aku, tapi juga jadi benci banget. Katanya aku adalah soulmate-nya tapi juga nightmare-nya.  Aku takut dia pergi ninggalin aku, mengabaikan ku. Ketakutan yang sama seperti saat aku sendirian nyasar di perkebunan, kedinginan dalam gelap dan dalam serangan rasa nggak diinginkan oleh siapa-siapa.

Aku kecewa, terluka sama kemarahan Ardy. Aku tahan. Aku terima. Sebagai wanita dewasa aku bisa maklum dan bersabar. Tapi Ardy lupa, there's a sad lonely litle girl inside me. Yang berusaha keluar dari diriku. Aku dikuasai trauma masa kecilku.

Seharusnya Ardy yang paling kenal aku saat kecil tau kalau aku punya trauma. Seharusnya dia yang paling bisa pahami aku.  Berhenti menyalahkan ku karena itu bikin aku ngrasa gak diinginkan. Itulah sebabnya aku bener-bener nangis habis-habisan di kamar sampe mata ku bengkak. Aku sampai takut kalau kebanyakan nangis ntar mataku jadi buta dan gak bisa mandangin foto Ardy lagi yang kujadiin wallpaper di hp ku.

Beberapa kali pesan dari Ardy masuk tetep aku gak bereaksi. Diam mandangin hp di tangan. Gak lama dia telpon. Bunyinya makin lama makin memekakkan telinga. Hp ku jatuh di pangkuan. Ku jatohin badan ku ke kasur. Meringkuk meluk lutut. Airmata mulai banjir ngebasahin kasur.

Aku mulai berpikir. Mengkaji ulang hubungan kami. Apa sebaiknya ku hentikan aja. Aku betul-betul gak sempurna buat dia. Dia hanya akan banyak terluka. Mungkin lebih baik aku menyingkir aja dari jalan hidupnya. Kembali mengurung diri dan menutup rapat hati ku. Lama aku mikir, dan nangisin apa yang sedang kupikirkan.

Pelan-pelan ku raih hp dan mulai mengetik.

"Kita gak lagi akan sering2 bicara. 

Aku gak akan menyela dalam kehidupan mu. 

Aku berharap kamu tetep semangat dan berbahagia seperti biasanya. 

Maaf atas semua kesalahan dan kekurangan ku. Maaf atas smua luka mu yang aku sebabkan.

Terimakasih atas seluruh cinta mu yang tercurah buat ku

Aku pamit untuk kembali ke gudang kosong yang gelap itu dan berharap utk gak pernah jatuh cinta lagi. Krn aku pengen kamu jd yg terakhir.

Kita akan saling mencintai dengan cara kita masing2. Dalam khayalan kita sendiri-sendiri."

Airmata ku jatoh berderai-derai saat ngbaca pesan yang ku buat. Berkali-kali kubaca dengan mata kabur karena kebasahan airmata. Lalu ku bulatkan hati ngirim pesan itu ke Ardy. Klik! Pesan terkirim.

Aku duduk di pojokan tempat tidur meringkuk memeluk lutut. Natap jauh entah kemana, tanpa ekspresi.

                                              **************************


    

Rabu, 07 Juni 2017

MAYLA HILANG



#30HariMenulis - Day 7

Hari yang melelahkan. Tapi aku senang akhirnya selesai juga pekerjaan hari ini. Hasil panen kopi sudah ditimbang dan besok siap dihampar di halaman untuk dikeringkan.

Upah petik dan angkut para pekerja sudah selesai dihitung. Sebagian sudah dibayarkan. Senang melihat wajah-wajah mereka sumringah puas menghitung uang dan pulang dengan semangat menemui anak istri yang sudah menunggu di rumah.

Aku membereskan gelas-gelas kopi yang berserakan. Mengelap meja dan meletakkan kembali kursi-kursi di tempatnya. Merapihkan karung-karung dan kinjar- keranjang untuk memetik kopi- menggantungnya agar besok siap untuk digunakan lagi.

Malam ini kami tidak akan menginap di pondok kebun. Jadi aku bersiap untuk pulang. Suami ku juga sudah selesai membereskan pondok.

Aku ke bilik mencari Mayla. Tadi dia ribut sekali saat aku sedang sibuk-sibuknya menangani pekerjaan. Betapa hiruk pikuknya keadaan siang tadi. Orang lalu lalang memikul biji-biji kopi basah, menimbangnya dan memindahkannya ke tempat lain. Sementara Mayla memaksa minta perhatian bertanya soal burung kenarinya yang sudah sekarat.

Hampir saja tubuh mungil Mayla tersenggol karung kopi yang dihempaskan pekerja ke timbangan jika aku tidak menyambar dan menyingkirkannya dari sana.

Saat masih kesal dan harus buru-buru mencatatkan hasil timbangan Mayla malah menyodorkan burung di tangannya ke wajahku. Menyesal tadi aku sempat menepiskan tangannya karena terkejut.

Aku sempat melihatnya terpana dan berbalik pergi. Menyelinap di antara kerumunan orang. Ku kira dia pergi ke bilik merawat burung kesayangannya, bermain dan tertidur.

Tapi dia tidak ada di bilik. Aku mencarinya ke sekitar pondok. Tidak ada. Aku pergi ke pondok tetangga. Disana biasanya dia main dengan Ardy, anak tetangga pondok kami.

Pondok Ardy lebih luas dan indah. Terbuat dari kayu hitam berkilat. Halamannya ditumbuhi rumput hijau yang terawat rapih. Ada gazebo di sudut halaman tempat biasanya Mayla dan Ardy bermain.

"Ada apa tante?" Ardy keluar dari pondok menyapaku.

"Apa Mayla main kemari?" tanyaku.

"Enggak, Te" Ardy menggeleng. "Dari siang tadi Mayla nggak main kesini. Memangnya kenapa Mayla?" 

Aku menangkap kegelisahan di mata Ardy. Dia menyayangi Mayla seperti adiknya sendiri. Menjaganya setiap kali mereka main bersama mencari kupu-kupu atau buah-buahan di kebun.

"Wah, kemana ya dia. Tadi tante kira dia tidur di bilik tapi nggak ada. Biasanya kan main kesini" kataku mulai khawatir.

Aku segera berpamitan pada Ardy untuk kembali mencari Mayla. Ardy ikut membantu mencari dan menghubungi orang-orang dan meminta mereka membantu.

Tiba-tiba suasana senja di dusun kecil di perkebunan itu yang tadi mulai hening kembali heboh gara-gara mencari Mayla. Masing-masing memberitahu kan apa yang mereka tahu. Apa yang mereka perkirakan kemana Mayla pergi.

"Terakhir aku melihatnya saat ibu menyingkirkannya dari dekat timbangan" kata salah satu pekerja.

"Aku melihatnya dipinggir jalan setapak. Tapi aku tidak tahu selanjutnya dia kemana" ujar yang lainnya.

Akhirnya kami sepakat menyebar mencari. Ada yang ke arah dusun menuju ke kampung di luar perkebunan karena berpikir siapa tahu Mayla menuju jalan pulang. Beberapa menyusuri jalan setapak menuju perkebunan. Sebagian lagi ke arah sungai. Karena Mayla suka bermain di sungai bersama Ardy.

Aku sangat gelisah dan cemas. Hari mulai gelap, bagaimana jika Mayla belum ditemukan. Bagaimana keadaannya. Dia tentu akan ketakutan. Oh, Tuhan...tolong jaga anakku. Aku mulai menangis membayangkan anak sekecil itu, sendirian, kedinginan dan ketakutan di suatu tempat entah dimana. Tanpa aku di sampingnya. Aku sangat menyesal sudah mengabaikannya tadi. Aku menangis memikirkan keadaan dan perasaan Mayla ku.

Aku mengikuti orang-orang yang mencari kearah jalan setapak menuju perkebunan. Karena beberapa dari mereka menemukan mainan Mayla yang tercecer bersama bangkai burung yang tadi dipegang Mayla. Dibeberapa tempat di jalan setapak itu terlihat daun-daun kopi dan buahnya berceceran berserak. Kami berpikir Mayla yang melakukan ini dengan marah. Kami menelusuri jejak ceceran daun dah buah kopi itu.

Kami berteriak bersahut-sahutan memanggil Mayla. Sementara kegelapan makin pekat. Suara serangga malam terdengar memekakkan telinga. Kilau senter bergerak kesana kemari menyinari sela-sela pohon dan daun kopi. Udara semakin dingin. 

Tiba-tiba seseorang berteriak dari sebelah lain.

"Kami menemukannya!!!"
Aku berlari kearah suara itu secepat kilat sampai menabrak-nabrak batang pisang atau tersebat ranting kopi. Aku tak perduli.

Kudapati Mayla duduk meringkuk di tumpukan daun kering bersandar di batang kopi, kedinginan, wajahnya pucat, matanya sembab menatap kosong. Aku memeluknya erat-erat sambil menangis. Menggendongnya dan membawanya pulang.

Para pencari mengiringi kami sambil berbisik-bisik mengatakan kemungkinan Mayla diculik hantu, karena melihat kondisi Mayla yang tetap diam, tatapannya kosong tanpa ekspresi.

                                                  *********************************

Pic by google

Selasa, 06 Juni 2017

DICULIK HANTU






berkali-kali diabaikan, kalau ditambah sekali lagi itu gak apa-apa. Sungguh gak apa-apa. Aku berbalik meninggalkan mereka pelan-pelan. Berjalan menunduk menyeret kantong mainan ku ditangan kiri dan seekor burung yang sekarat ditangan kanan.


#30HariMenulis - Day 6

Tak ada yang memperhatikan ku pergi. Tidak pula ada yang perduli airmata ku yang nyaris tumpah. Mereka masih sibuk menghitung hasil panen yang mereka petik hari ini. Begitu juga Bapak dan Ibu. Ibu bahkan sempat menepis tanganku saat kutunjukkan burung kenari ku yang sekarat. Aku butuh pendapat apa yang harus kulakukan dengannya. Alih-alih menjawab Ibu malah menyingkirkan tubuhku yang menghalangi timbangan.

Tubuhku yang mungil nyaris tak terlihat menyelinap diantara para kuli perkebunan dan keluar dari kerumunan.

Aku terus saja berjalan. Pelan seolah menghitung satu persatu langkahku dan berharap di langkah kesekian ada yang memanggilku dan meminta ku kembali. Tapi sampai jauh aku berjalan, sampai letih kaki ku melangkah, tak juga ada yang memanggil. 

Tak lagi menjadi 'tidak apa-apa' kemarahan dan kecewaku meledak. Ku tumpahkan pada daun-daun dan buah kopi di sepanjang jalan setapak yang kulalui dengan menjambak dan mencabik mereka lalu menghamburkannya ke jalanan.

Aku tidak menyadari kemana arahku berjalan. Yang kurasakan hanya aku berjalan di jalan setapak yang luruuuuus jauh dengan kiri kanannya pepohonan serupa pintu gerbang melengkung yang sedang merentangkan tangannya untuk memelukku.
Sementara bunyi Tonggeret terdengar seperti hymne yang mengiringi langkah seorang putri di balairung kerajaan.

Ketika aku tersadar, hari mulai gelap. Angin senja mulai merayapi tubuhku. Aku melihat sekeliling. Hanya hamparan pohon-pohon kopi berhias buah merah hijau berkilat. Beberapa bunga kopi berwarna putih masih terlihat menghiasi serupa mahkota cantik nan wangi. Aku tidak tau berada dimana.

Tiba-tiba saja aku tak dapat melihat jalan yang tadi kulalui. Aku bahkan tidak ingat kemana barang-barang yang tadi kubawa. Aku mulai gelisah. Berpikir untuk pulang. Tapi bagaimana? Aku menyusuri barisan pohon kopi berusaha tetap lurus satu ruas. Tapi tetap saja tak ada jalan setapak tadi. Aku mulai ketakutan. Dan menangis.

Gigitan nyamuk di kulitku tak lagi ku perdulikan. Pun nyamuk-nyamuk yang merubungi seluruh tubuhku. Dingin, gelap, sendiri. Betapa kecewanya aku. Tak ada yang perduli. Apa mereka tidak merasa kehilanganku? Umurku masih lima tahun, dan mereka tidak perduli anak lima tahun sudah masuk gerbang malam begini tidak ada di rumah. Aku sungguh kecewa dan terluka.

Aku berhenti menangis. Walau masih dicekam rasa takut yang luar biasa. Seolah kegelapan menjadi sosok raksasa yang mendekapku. Belum lagi bunyi-bunyi serangga malam yang mirip seperti orang sedang mengobrol hiruk pikuk. Aku duduk meringkuk bersandar di batang kopi.

Kedinginan, letih, ketakutan, kecewa, marah dan tak berdaya membuat tubuhku serasa tak bertulang. Aku mulai mendengar suara-suara aneh. Seperti suara lebah. Kilatan-kilatan cahaya dan suara-suara tapak kaki di daun kering.

"Maylaaa....."

"Maylaaaaaaa....."

Sayup-sayup kudengar namaku dipanggil. Aku diam saja. Aku tak mampu memutuskan harus menjawab atau diam saja. Akhirnya ya aku diam saja. Pikiranku terasa kosong.

"Aku menemukan mainannya di sekitar sini" ujar seseorang.

"Benar, daun-daun dan buah kopi yang berserakan seperti sengaja di hambur juga mengarah kesini" timpal yang lain. Sinar lampu senter terlihat menyorot kesana kemari.

"Maylaaaa...." itu suara Bapak.

"Maylaaaaa..." aku mengenali suara Ibu.

Mereka terus berteriak memanggilku. Semua orang memanggilku. Untuk apa? Kenapa tadi sore mereka tak perduli. Aku sedikit lega mereka akhirnya menemukanku meringkuk ketakutan ditumpukan daun kering bersandar di batang kopi. Dengan tubuh dingin, wajah pucat dan tatapan yang kosong. Kudengar mereka saling berbisik melihat kondisi ku yang demikian bahwa aku baru saja diculik hantu.


                                     ******************


Senin, 05 Juni 2017

SINAR

#30HariMenulis - Day 5

Aku tertidur di kamar belakang. Diam-diam matahari mengusap rambutku. Membelai wajahku. Hangat. Aku diam saja. Persis seperti dulu jika Ibu diam-diam mendatangi kamarku, memeriksa luka yang kudapat hasil terjun bebas di jalanan kampung saat bersepeda. Tadi Ibu mengomeliku habis-habisan. Mungkin dia menyesal. Diusapnya kepalaku. Dirabainya wajahku. Aku terjaga tapi pura-pura tetap tidur. Sampai dia menciumku dan pergi meninggalkan kamarku.

Matahari mungkin gemas karena aku diam saja. Dijelajahinya wajahku. Makin lama makin panas. Aku bergeser kesamping. Matahari menyentuh bahuku. Aku berputar 30 derajat. Memunggungi matahari. Diam-diam matahari mengejarku, mengapai punggungku. Aku berputar lagi 30 derajat. Sekarang matahari merayapi kaki ku. Panas. Matahari terlalu terik. Atau ia terlalu memaksa minta perhatianku? Sepertinya aku harus pindah ke kamar lain.

Tapi tubuhku masih lemas. Malas bangkit dari tempat tidur. Jadi kugeser lagi tubuhku. Amaan. Tak lama. Kembali matahari menyentuhku. Aku berbalik. Memandang ke luar jendela. 

Matahari memang terik. Seolah kulihat dia tersenyum lebar. Pas betul buat jemur-jemur. Tiba-tiba aku teringat cucian di mesin cuci yang belum ku keluarkan.

Astaga,...aku lupa. Aku belum menjemur cucianku. Aku bangkit dari tempat tidur. Matahari rupanya mengingatkan ku kalau dia nyaris turun dari titik tertingginya. Sementara tadi aku baru mencuci bedcover yang kalau tidak langsung kering akan berbau tidak sedap. Aku menoleh pada matahari dan bilang :

"terima kasih sudah mengingatkan ku" ucapku sambil tersenyum. Entah kenapa lagi-lagi aku seperti melihat matahari tersenyum manis seperti ikon smiley berwarna kuning itu.

Aku bergegas ke dapur. Mengeluarkan cucian dan membawanya ke belakang. Kebun tempat aku biasa menjemur pakaian. Kubiarkan matahari memeluk seluruh tubuhku. Aku hanya tersenyum menatap ke arahnya sambil menyipitkan mata. Silau.

"Peluklah aku, sesuka mu. Tidak mengapa jika kulitku akan menjadi gosong" ujarku padanya.

Matahari tergelak.

                                         *******************